KPK Periksa Hengki HeriandonoHarga gas untuk industri yang tinggi masih menjadi persoalan bagi sektor produksi pupuk dan plastik. Maklum, bahan baku utama kedua kedua industri ini adalah gas. Gasifikasi batubara diyakini dapat menjadi opsi menarik efisiensi tatkala harga gas yang tidak bisa diturunkan lebih jauh.

Pengembangan hilirisasi batubara melalui gasifikasi batubara terus digenjot oleh PT Bukit Asam Tbk. Saat ini, emiten berkode saham PTBA di Bursa Efek Indonesia tersebut tengah merampungkan tahapan bankable feasibility study.

Sekretaris Perusahaan PTBA Suherman mengatakan, saat ini, pengembangan gasifikasi batubara terus dilakukan. Sedang diselesaikan oleh konsultan yang ditunjuk bersama, terangnya kepada KONTAN, Kamis (1/2).

Asal tahu saja, Bukit Asam bersama dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk akan membentuk perusahaan patungan alias joint venture (JV) untuk membangun pabrik pengolahan gasifikasi batubara.

Teknologi di pabrik ini bisa mengubah batubara menjadi synthetis gas (syngas), dengan nilai investasi lebih dari US$ 1 miliar. Targetnya, pada akhir tahun 2018 atau awal tahun 2019, pabrik tersebut sudah mulai konstruksi. Saat ini, PTBA baru menyiapkan lahan yang akan dijadikan kawasan industri. “Lokasinya di Tanjung Enim, Sumatra Selatan,” terangnya.

Sayang, ia belum bisa menyebutkan berapa besar potensi bisnis yang akan didapat dari hasil hilirisasi melalui gasifikasi batubara ini. Suherman juga belum mau mengatakan ke mana akan dijual hasil gasifikasi batubara tersebut. “Kami tunggu sampai feasibility studynya selesai dulu ya. Nanti, kalau ada perkembangan akan di-update,” tandasnya.

Asal tahu saja, gasifikasi batubara adalah mengubah batubara menjadi produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Caranya, dengan menggunakan teknologi gasifikasi yang memungkinkan mengonversi batubara muda menjadi syngas, yakni bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi dimethyl ether sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Aturan gasifikasi

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin mengungkapkan produksi gasifikasi batubara setelah menjadi syngas dapat memenuhi kebutuhan pasar. Yakni sebesar 500.000 ton urea per tahun, 400.000 ton dimethyl ether per tahun dan 450.000 ton polypropylene per tahun.

Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku sebesar 9 juta ton per tahun. “Itu sudah termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listriknya,” ungkapnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono mengatakan, saat ini baru Bukit Asam yang berminat untuk melaksanakan hilirisasi batubara melalui gasifikasi batubara ini. Sejauh ini Kementerian ESDM engah melakukan diskusi untuk menerbitkan detail aturan terkait pengembangan gasifikasi batubara.

Menurut Bambang, secara umum memang sudah ada juga gasifikasi. “Sedangkan hilirisasi sudah diatur tapi belum rinci. Salah satu yang belum mau mengembangkan karena keekonomian juga belum berkembang,” terang Bambang.

Sumber – http://industri.kontan.co.id

Pemerintah Selesaikan SOP Ketentuan Pengenaan Sanksi Pelanggar B20

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengatur pengenaan sanksi untuk pelanggar kewajiban penyaluran biodiesel »

Pengembangan batubara sebagai energi alternatif masih temui kendala

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengembangkan energi baru berbasis batubara.Peningkatan nilai tambah ini dimaksudkan untuk menjadi »

Harapan pengusaha Batubara bagi calon Presiden dan Wakil Presiden

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengharapkan, siapapun Presiden terpilih nanti harus mampu mendorong industri pertambangan barubara agar memaksimalkan »

Berikan Komentar