Sertifikat Webinar Sharing Session – Serial K3 Pemula

JSA ….Buatnya mudah, manfaatnya wah

Sabtu, 22 Agustus 2020, Jam 10.00-12.00 WIB

No Nama  Nomor Sertifikat
1 Abd. Hadi Zamzami 184 /VIII/2020/SKP/IDS 
2 Abraham Pongsirrang, S.T. 185 /VIII/2020/SKP/IDS 
3 Abu Baharudin 186 /VIII/2020/SKP/IDS 
4 Achmad Rizaldi 187 /VIII/2020/SKP/IDS 
5 Achmad Rony Ardiansyah 188 /VIII/2020/SKP/IDS 
6 Adam Dwi Nurachmad 189 /VIII/2020/SKP/IDS 
7 Ade Akbar Saputra 190 /VIII/2020/SKP/IDS 
8 Ade Asriyatna 191 /VIII/2020/SKP/IDS 
9 Ade Wahyu Ristiyono 192 /VIII/2020/SKP/IDS 
10 Adella Isdayani 193 /VIII/2020/SKP/IDS 
11 Adi Angga 194 /VIII/2020/SKP/IDS 
12 Aditya Rahardian 195 /VIII/2020/SKP/IDS 
13 Agung Pamuji Nugroho 196 /VIII/2020/SKP/IDS 
14 Agung Pribadi 197 /VIII/2020/SKP/IDS 
15 Agung Purwanto, S.T., M.T. 198 /VIII/2020/SKP/IDS 
16 Agus Dermawan 199 /VIII/2020/SKP/IDS 
17 Agus Dwi Saputra 200 /VIII/2020/SKP/IDS 
18 Agus Santoso 201 /VIII/2020/SKP/IDS 
19 Agustinus Constantinus Nurak, S.T. 202 /VIII/2020/SKP/IDS 
20 Agustinus Vembrianta 203 /VIII/2020/SKP/IDS 
21 Ahmad Haerohmi 204 /VIII/2020/SKP/IDS 
22 Ahmad Hasan Fadholi 205 /VIII/2020/SKP/IDS 
23 Ahmad Khoirun Nasikhin 206 /VIII/2020/SKP/IDS 
24 Ahmad Nur Fauzan 207 /VIII/2020/SKP/IDS 
25 Ahmad Nurhamidin 208 /VIII/2020/SKP/IDS 
26 Ahmad Susanto 209 /VIII/2020/SKP/IDS 
27 Ahmad Yassar Sitompul 210 /VIII/2020/SKP/IDS 
28 Aldy Yuli Rahmady 211 /VIII/2020/SKP/IDS 
29 Alfitra 212 /VIII/2020/SKP/IDS 
30 Ali Rohman 213 /VIII/2020/SKP/IDS 
31 Aliq Abdul Azis, A.Md.T. CH 214 /VIII/2020/SKP/IDS 
32 Alis Indah Suciyati, A.Md., KL. 215 /VIII/2020/SKP/IDS 
33 Almudasir, A.Md.Kep. 216 /VIII/2020/SKP/IDS 
34 Amel Lidia 217 /VIII/2020/SKP/IDS 
35 Amrullah Rangkuti, S.T. 218 /VIII/2020/SKP/IDS 
36 Ananda Nurfiana Shafira 219 /VIII/2020/SKP/IDS 
37 Andi Syastiawan, S.Pt,.M.Si. 220 /VIII/2020/SKP/IDS 
38 Andika Putra 221 /VIII/2020/SKP/IDS 
39 Andri Lubis Dirgantara 222 /VIII/2020/SKP/IDS 
40 Andrian Tri Kesuma Wardana, S.Si. 223 /VIII/2020/SKP/IDS 
41 Andriansyah 224 /VIII/2020/SKP/IDS 
42 Angga Agus Saputro 225 /VIII/2020/SKP/IDS 
43 Ari Fajrin 226 /VIII/2020/SKP/IDS 
44 Ari Kuswantari 227 /VIII/2020/SKP/IDS 
45 Arvud Pehan Dannie Lebuan 228 /VIII/2020/SKP/IDS 
46 Ary Setiawan 229 /VIII/2020/SKP/IDS 
47 Arya Surya Dinata 230 /VIII/2020/SKP/IDS 
48 Awaludin Medy Wibowo Amd.KK S.ST. 231 /VIII/2020/SKP/IDS 
49 Bagus Kurniawan 232 /VIII/2020/SKP/IDS 
50 Bagus Noer Eka Putra 233 /VIII/2020/SKP/IDS 

Materi Webinar Bangun Karier Dini

PT IndoSHE

No Judul Webinar Tanggal Materi
1

 

Memilih Menetapkan Profesi A1

 

 

Download
2

 

Membangun skill utama dan skill pendukung A2

 

 

Download
3

 

Melamar kerja dan sukses wawancara B1

 

 

Download
4

 

Sukses berkarier sejak hari pertama bekerja B2

 

 

Download
5

 

Membangun skill utama dan skill pendukung A2 

 

12 September 2020

Download
6

 

Melamar bekerja dan wawancara + PLUS CV B1

 

26 September 2020

Download
7

 

Sukses berkarier sejak hari pertama bekerja B2 

 

03 Oktober 2020

Download
8

 

Memilih dan menetapkan profesi A1 2.0

 

24 Oktober 2020

Download
9

Membangun skill utama dan skill pendukung A2 2.0 

07 November 2020

Download
10

Melamar bekerja the Leader Way

21 November 2020

Download
11

3 Kunci Sukses Wawancara

5 Desember 2020

Download
12

Langkah pertama dan hari pertama bekerja, menentukan perjalanan karir anda

19 Desember 2020

Download

 

Sertifikat Webinar Sharing Session

Serial Bangun Karier Dini Paket B1 dan 2


 

No

Nama Peserta

Nomor Sertifikat

File

1

Achmad Rizaldi

0014/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

2

Adam Dwi Nurachmad

0015/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

3

Adella Isdayani

0016/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

4

Ahmad Teduh, S.Pi., M.Si

0017/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

5

Alwi Alaksa Parmanda

0018/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

6

Angga Agus Saputro

0019/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

7

Awaludin Medy Wibowo, Amd.KK., S.ST.

0020/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

8

Ayu Elsa Oktavia

0021/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

9

Bagus Kurniawan

0022/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

10

Deni Ucok Kuswoyo

0023/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

11

Dimas Baskoro

0024/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

12

Eurene M. Rawis

0025/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

13

Fitriani Ainun Jariyah

0026/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

14

Galang Handayani

0027/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

15

Irfan

0028/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

16

Lilis Misliana

0029/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

17

Mardiansyah

0030/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

18

Michael Ludwig Sianipar

0031/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

19

Nuruddin Mustafa

0032/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

20

Oktaria Futri Ilhami

0033/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

21

Pebriyanti Karolina, S.K.M.

0034/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

22

Rija Tanaka Lianda Yuki

0035/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

23

Suriansyah

0036/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

24

Syaeful Fariz

0037/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

25

Usman Tio Abimanyu

0038/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

26

Vita Mardhiyanti Melati

0039/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

27

Wisnu Prasetyo

0040/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

28

Yakub Andriyadi

0041/VIII/2020/SBKD/IDS

Download

Materi Webinar Serial K3 Pemula – Batch 1

PT IndoSHE

No Judul Webinar Materi
1 Basic Safety untuk Praktisi K3 Pemula Download
2 Tips inspeksi bagi praktisi K3 Download
3 Resep observasi K3 yang membangun perilaku Download
4 Cara benar susun prosedur kerja Download
5 Memahami konsep perangkat pencegahan kecelakaan Download
6 Safety Meeting “The Leader Way” Download
7 Investigasi Insiden – Bagi Pemula Download
8 Supervisor Pre Shift Check Download
9 Mengenal benar IBPR/HIRADC Download
10 JSA ….buatnya mudah, manfaatnya wah Download
11 Peran Fantastis Pre Job Safety Talk Cegah Celaka Download
12 Basic Emergency Respon Plan Download

 


Materi Webinar Serial K3 Pemula – Batch 2

PT IndoSHE

No Tanggal  Judul Webinar Materi

1

17 Okt 2020

Basic Safety untuk Praktisi K3 Pemula “INGIN MANTAP BERPROFESI DI K3?”

Download

2 31 Okt 2020

Mulailah Karier Safety Dengan Benar

Download

3

14 Nov 2020

Tips melakukan Inspeksi yang efektif (batch 2)

Download

4

28 Nov 2020

Observasi K3 the Leaderway

Download

5

12 Des 2020

Menyusun Prosedur Kerja The Leader Way

Download

6

16 Jan 2021

Safety Meeting The Leader Way

Download

7

23 Jan 2021

Incident Investigation The Leader Way

Download

8

30 Jan 2021

Supervisor Pre Shift Check

Download

9

13 Feb 2021

HIRADC The Leader Way

Download

10

20 Feb 2021

JSA The Leader Way

Download

11

27 Feb 2021

Pre Job Safety Talk

Download

12

06 Mar 2021

Workplace Emergency and Evacuation Plan

 Download

 

Dunia pertambangan di Indonesia kehabisan air mata. Kecelakaan yang merenggut nyawa karyawan terus terjadi. Begitu banyak karyawan tambang kembali kepada sang pencipta dengan cara tak seorangpun pernah mengharapkan

Tahun 2019 sebanyak 18 nyawa hilang di tempat kerja, tempat mereka mencari nafkah. Ini merupakan kenaikan dari angka kecelakaan fatal tahun sebelumnya berjumlah 17.

Tahun 2020 baru memasuki bulan ke 3, kita juga sudah harus mengantarkan pekerja tambang pulang ke keluarganya di dalam peti mati. Semua tambang tersentak, kaget. Semua menangis, tetapi sudah tidak keluar air mata lagi, karena terlalu seringnya terjadi. Tinggal istri, anak-anak, orang tua dari pekerja tambang yang meninggal, airmatanya tumpah ruah ketika menerima kepala keluarga dan pahlawan pencari nafkah mereka, terbaring kaku membisu, diantar oleh perwakilan perusahaan.

Mari kita renungkan, meskipun setiap manusia yang hidup pasti kembali kepada Sang Pencipta, tetapi tidak ada yang bisa menerima kalau cara kembalinya karyawan kepada sang khaliq memalui kecelakaan kerja secara tragis di area tanggung jawab kita, akibat terpapar risiko yang sudah ada di register risiko kritis.

Dalam renungan saya, saya mencoba mencerna kembali kata-kata Dr. Drew Rae, seorang pakar keselamatan dari Australia, yang dalam suatu conference safety menyebutkan “Yang sangat menakutkan, semua kecelakaan ini terjadi ditengah banyaknya program safety, bukan karena tidak ada program safety”. Drew Rae mengajak kita untuk mereview apa yang kita lakukan “make sense”? Sudah “Be safe” atau baru “Be compliant”? Apakah benar semua kegiatan safety itu “improve safety”? Peserta conference tidak ada yang menyanggah ketika Drew Rae menyampaikan kekhawatiran ini.

Dalam keresahan saya, sebagai seorang praktisi safety yang mulai berkarier tahun 1979, pengembaraan saya di dunia maya terdampar pada tulisan Terry L. Mathis, pakar safety excellence dari USA, yang menyatakan: “Kebanyakan dari kita hanya mengajari team kita dengan pasal-pasal aturan, kita tidak mengajari mereka dengan filosofi atau konsep-konsep. Dan itu sangat dangkal”.

Jleb! Kata-kata Terry ‘nunjem’ tepat di relung hati saya yang paling dalam. Terry telah menjawab concern dari Drew Rae, meskipun mereka berada di dua benua yang berbeda dan berbicara di dua event yang berbeda. Itu jawaban yang selama ini saya cari. Paling tidak, pernyataan Terry tepat untuk kondisi dewasa ini. Kondisi di mana dunia safety telah merasa aman dengan banyaknya aktivitas yang mereka lakukan dan lengkapnya dokumen yang mereka miliki, sejak yang bernama prosedur, standard, JSA, IK, hasil risk assessment, laporan investigasi, rekomendasi audit, sertifikat pencapaian safety, dan masih banyak lagi.

Kata-kata Terry menusuk tajam merobek-robek hati saya sebagai seorang praktisi safety, mewakili para praktisi safety generasi muda yang ada di lapangan. Terngiang pedih kata-kata Terry “Hanya mengajari team kita dengan pasal-pasal, tidak mengajari konsep safety. Dan itu sangat dangkal”. Tegas sekali ini adalah area profesinya profesional safety. Bukan area profesi yang lain. Kenapa saya tidak terpikirkan itu selama ini.

Saya meyakini, bahwa peran dan tanggung jawab profesional safety itu kalau diringkas adalah “Binwas” atau Pembinaan dan Pengawasan, yang selama ini saya jabarkan menjadi 7, yaitu sebagai:

  1. Staf ahli bidang perusahaan.
  2. Sekretaris semua organisasi safety struktural maupun fungsional.
  3.  Safety Statistic Keeper, pengawal klasifikasi kecelakaan sampai menjadi statistik.
  4. Arsitek atau designer program safety.
  5. Pengembang semua karyawan perusahaan agar bisa melakukan peran dan tanggung jawab safety mereka sesuai jenjang posisi dan departemennya masing-masing.
  6.  Evaluator yaitu melakukan monitoring, review, evaluasi terhadap proses pengembangan maupun tingkat keefektifan penerapan safety.
  7. Event organizer, yang mengorganisir pelaksanaan berbagai kegiatan program safety lintas departemen dan kontraktor di suatu perusahaan sejak 1 Januari sampai dengan 31 Desember agar berjalan harmonis.

Dengan memakai definisi tersebut, sudah tidak terbantahkan bahwa concerns Drew Rae tadi dialamatkan kepada kami personel safety, bahwa belati Terry tadi dihujamkan ke hati para profesional safety.   Bukan kepada yang lain. Kepada teman-teman seprofesi safety, mari kita jujur pada diri sendiri. Kalau dengan dua kali sebulan mengirim karyawan pulang kepada keluarganya dalam peti mati karena kecelakaan, belum mampu menyentuh hati kita, saya kuatir Tuhan akan menambahnya.

Untuk itu mari perenungan kali ini kita fokuskan lebih dalam kepada peran para profesional safety. Saya mencoba menindaklanjuti concern kedua pakar safety di atas.

Kita hanya mengajarkan pasal-pasal aturan dan tidak mengajarkan konsep dan filosofi dari setiap program safety. (Terry L. Mathis)

  1. Tepat sekali. Ini harus diterima sebagai kritikan keras bagi profesional safety, karena jangankan memahami konsep program pencegahan kecelakaan, faktanya masih banyak dari kita yang menjadi orang safety karena tidak diterima di tempat lain. Sudah begitu masih tidak mau belajar.
  2. Menyusun prosedur lebih karena tuntutan klausul sistem yang dipakai, daripada karena kebutuhan perangkat pencegahan kecelakaan.
  3. Menerapkan prosedur atau regulasi di lapangan lebih pada memastikan pemenuhan pasal-pasal prosedur dan regulasi, daripada memastikan bagaimana konsep atau tujuan prosedur itu mencegah kecelakaan bisa dicapai.
  4. Banyak yang tidak pernah ikut menyusun prosedur, atau bahkan memahami prosedur yang ada saja, belum.
    Banyak sekali kegiatan safety kita

lakukan, tetapi benarkah itu semua improve safety? (Drew Rae)

  1. Banyak fakta pelanggaran sehari-hari yang sangat obvious (mudah dilihat), dimana personel safety:
    a. Bukannya memperbaikinya, tetapi malah meminta manajemen mengundang konsultan untuk mengukur maturity sistemnya.
    b. Tenang-tenang saja melihat banyak prosedur tidak berjalan. Tidak berusaha me-review, mengapa kok yang melanggar banyak, jangan-jangan yang salah prosedurnya.
    c. Baru terlihat pelanggaran itu ketika terjadi kecelakaan. Artinya: kalau karyawan berani melakukan pelanggaran yang obvious, berarti pengawasan atau kontrol sehari-harinya memang lemah.
  2.  Terhadap Register Risiko Kritis perusahaan, banyak personel safety:
    a. Membiarkan saja meski tahu bahwa Register Risiko Kritis itu tidak nyambung dengan hasil dari risk assessmentnya.
    b. Membiarkan saja mengetahui Register Risiko Kritis tidak dilengkapi dengan ruang lingkup pekerjaan yang mengandung risiko kritis tersebut, sehingga pengawas dan pekerja harus mengerti sendiri.
    c. Membiarkan pengawas harus memakai Register Risiko Kritis Departemen yang tidak semuanya berlaku untuknya, tidak ada ide untuk membantu pengawas memiliki Register Risiko Kritis Pengawas yang berisi hanya Risiko Kritis area kerja pengawas sendiri bersama crew.
    d. Membiarkan saja hasil risk asessment, Register Risiko Kritis tidak di-update meskipun kondisi lapangan dan aktivitas sudah berubah, meskipun Prosedur Perubahan sudah menemukan perubahan-perubahan.
  3. Pengawas sendiri melakukan pelanggaran bahkan celaka.
    a. Kalau pengawas melakukan pelanggaran, bisa disimpulkan bahwa pengawas itu tidak atau salah memahami prosedur yang berlaku.
    b. Dan ketika pengawas melakukan pelanggaran mestinya juga mudah terlihat karena pasti diikuti oleh crewnya. Tetapi ini juga tidak terdeteksi sehingga terjadi kecelakaan.
    c. Kepedulian personel safety untuk action waktu melihat ketidakberesan masih sangat lemah.
  4. Tim Investigasi insiden puas setelah menemukan ada yang melanggar dan ada yang bisa ditindak. Padahal pelanggaran itu baru merupakan indikator bahwa ada yang tidak lancar dalam proses suatu kegiatan. Personel safety yang menjadi sekretaris tim investigasi harusnya meminta tim investigasi untuk melanjutkan penyelidikan sampai menemukan cukup data untuk bisa menyimpulkan, pelanggaran itu merupakan kasus individu atau pelanggaran masal, yaitu telah dilakukan oleh banyak orang sehari-hari tidak terkoreksi. Dengan begitu, rekomendasi investigasi kecelakaan pasti akan berbeda.
    teman-teman seprofesi. Tugas kita

sebagai Binwas keselamatan di tambang menuntut totalitas dan extra mile dari kita. Selamat.

Terbit dimajalah KATIGA

Edisi No.73 I Mei-Juli I Hal 36-37

MELAWAN CORONA COVID-19 DENGAN “KEDISIPLINAN”

Fakta

Dengan lebih dari 120 negara telah terjangkit Corona, sekarang ini bisa dikatakan bahwa di ujung dunia manapun kita berada, kita memiliki potensi yang sama untuk terpapar Corona.  Yang membedakan hanya KEDISIPLINAN DIRI.

Corona SANGAT MUDAH menular dengan lewat kontak fisik (bersentuhan, terkena cairan mulut hidung orang lain, memegang benda yang baru dipegang oleh orang lain).  Sementara ini Corona dinyatakan tidak menular lewat udara.

images (3)Prosentase yang sembuh dari Corona lebih dari 53% persen, prosentase yang meninggal di bawah 3,6% penderita.  Dan tingkat kesembuhan terus membaik dari hari ke hari.  Artinya peluang untuk sembuh tinggi.  Tetapi ya itu, hanya kalau DISIPLIN.

Yang TIDAK DISIPLIN, bukan hanya akan membuat ia berpotensi besar tidak sembuh, ia juga berpotensi besar menularkan kepada orang lain yang tidak berdosa.  Sungguh merupakan perbuatan tidak terpuji.

Masa inkubasi Corona adalah 14 hari.  Bahayanya sebelum seseorang menyadari bahwa dirinya terjangkit Corona, selama 14 hari ia sudah bisa menularkan Corona kepada orang lain yang berinteraksi dengannya.

Pencegahan

Jangan panik.  Karena kepanikan akan menyebabkan stress, stress akan membuat tubuh kita bersifat asam.  Tubuh yang bersifat asam bisa menurunkan imunitas atau tingkat kekebalan tubuh.  Namun demikian kita juga TIDAK BOLEH MEREMEHKAN Corona.  Karena Corona terbukti mematikan. Hampir 5000 orang telah meninggal karena Corona di seantero dunia. Karenanya WHO telah menetapkannya  sebagai Pandemi.

Virus Corona yang belum masuk ke tubuh, relatif bisa diatasi dengan cara yang sederhana, seperti cuci dengan sabun, dibersihkan dengan alkohol, berjemur, minum panas, mandi air panas, menjaga stamina tubuh dengan makan bergizi, istirahat cukup, olah raga cukup, dst.  Kegiatan pencegahan yang setiap orang bisa melakukan. Tantangannya bukan pada pengobatan yang rumit atau biaya yang mahal, tetapi lebih pada KEDISIPLINAN DIRI.

Ketika di dalam tubuh, imunitas tubuh kita akan melawan Virus Corona, kecuali paru-paru perokok yang dari studi terbukti sangat welcome atau merupakan reseptor yang baik untuk virus Corona masuk dan berkembang biak di dalam tubuh.

Yang merasa menderita sakit batuk, pilek, sakit tenggorokan dan sejenisnya, berDISIPLIN untuk peduli TIDAK MENULARKAN kepada orang lain.

Yang sehat, berDISIPLIN untuk berupaya agar TIDAK TERTULAR.

Tantangan

Tantangan terbesar kita masyarakat Indonesia adalah rendahnya kedisiplinan.  Padahal pencegahan dan penyembuhan Corona ini membutuhkan tingkat KEDISIPLINAN yang TINGGI.

Italia dan Iran adalah contoh buruk bagi kita.  Memburuknya  penyebaran Corona di kedua negara itu adalah karena ketidakdisiplinan sebagian generasi muda mereka.  Mereka melanggar anjuran dan pembatasan bepergian yang diberlakukan oleh pemerintah mereka.  Libur sekolah dan tutup kantor yang ditujukan agar mereka tinggal di rumah mengkarantina diri, malah dipakai begadang dan bepergian kesana kemari.  Mereka meremehkan Corona.  Dampaknya parah.

Singapura termasuk yang paling sukses menangani Corona karena masyarakatnya biasa hidup DISIPLIN.

Mari kita hidup disiplin MULAI dari diri kita, team kita, rumah kita

Untuk mencegah dan melawan Corona, kita perlu serangkaian KEDISIPLINAN DIRI yang diantaranya ialah:

  • Tidak panik.  Tidak usah panik.  Panik memicu stress.  Stress membuat tubuh bersifat asam, tubuh yang bersifat asam bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh.  Kita perlu DISIPLIN mengelola emosi kita agar Corona tidak sampai membuat pikiran kita stress.
  • Jaga stamina dengan makan sehat.  Mari DISIPLIN menghindari makanan yang tidak sehat, diganti dengan DISIPLIN makan yang sehat, yaitu dengan:

o   Memilih makanan yang dimasak dan disajikan dengan bersih

o   Mengurangi yang berminyak dan berlemak

o   Mengurangi yang manis-manis

o   Mengurangi makanan instan

o   Mengurangi minum dan makan yang dingin-dingin

o   Menghentikan rokok, karena terbukti merokok membuat paru-paru lebih welcome terhadap virus Corona.

o   Memperbanyak makan sayur, buah, air putih hangat

  • DISIPLIN berolah raga rutin, minimal jalan kaki 30 menit per hari, 5 kali seminggu.  Kegiatan yang bisa dilakukan di dalam rumah atau di halaman rumah sendiri.
  • DISIPLIN istirahat tidur yang cukup yaitu 7 jam atau lebih.
  • DISIPLIN mencuci tangan dengan benar, memakai sabun atau antiseptik dengan kandungan alkohol di atas 65%.
  • DISIPLIN “mengkaratina diri” dengan mengurangi keluar rumah dan menghindari keramaian, kecuali kondisi mengharuskan.
  • Waktu terpaksa harus keluar rumah, DISIPLIN melakukan kehati-hatian yang diwajibkan dilakukan pada orang sakit atau pada orang sehat.
  • DISIPLIN memakai barang pribadi milik sendiri, tidak berbagi alat makan dan minum, lap tangan, mukena, sajadah, dengan orang lain.
  • Ketika sekolah diliburkan atau kantor ditutup sementara karena Corona, DISIPLIN tinggal di rumah mengkarantina diri.  Tidak malah dipakai untuk bebas bepergian kesana kemari.
  •  Ingat masa inkubasi Corona adalah 2-14 hari, artinya orang bisa nampak sehat meski sudah terinfeksi Corona, sehingga ia sudah bisa menularkan Corona kepada orang lain yang berinteraksi dengannya selama 14 hari itu.  Sehingga penanganannya selalu TELAT.  Setelah positif terinfeksi Corona, baru ditelusuri ke belakang, siapa saja yang dalam 2 minggu terakhir telah berkontak dengannya.  Maka sementara ini DISIPLIN tidak saling berkunjung, DISIPLIN menghindari kumpul-kumpul adalah keputusan yang bijak.
  • DISIPLIN tidak ikut-ikutan borong belanja barang.  Kalau kita mengkonsumsi dengan wajar, ketersediaan barang akan cukup.

Bagi Yang Sakit

Apabila merasakan batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, atau salah satunya, DISIPLIN TIDAK MENULARKAN pada orang lain:

  • Tidak keluar rumah, kalau tidak perlu sekali.
  • Memakai masker agar tidak menularkan kepada orang lain lewat cairan dari mulut atau hidung ketika berbicara, tertawa, batuk, bersin.
  • Selalu menutup mulut dan hidung dengan tissue waktu batuk atau bersin.
  • Tidak bersalaman atau kontak fisik dengan orang lain.  Selalu jaga jarak minimal 1 m.
  • Rajin mencuci tangan setelah menyentuh wajah atau bagian dari wajah.
  • Segera datang berobat keklinik kesehatan apabila merasakan salah satu tanda-tanda di atas.

Bagi Yang Sehat

DISIPLIN melakukan pencegahan agar TIDAK TERTULAR, yaitu:

  • Tidak perlu memakai masker, supaya jumlah masker cukup untuk yang sakit.
  • Menghindari tempat keramaian
  • Selalu mencuci tangan setelah bersentuhan dengan orang lain atau menyentuh barang yang telah disentuh oleh orang lain.
  • Mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh wajah atau bagian dari wajah.

DISIPLIN tidak menyentuh wajah atau bagian dari wajah sebelum mencuci tangan.

DISIPLIN menerapkan greeting TANPA bersentuhan fisik (ikuti video)

DISIPLIN tidak berkunjung ke suatu tempat yang dilarang oleh pemerintah.

Mari kita hadapi CORONA dengan TIDAK PANIK, tetapi juga TIDAK MEREMEHKAN.  Siapa yang tidak disiplin, dalam 2 minggu akan kelihatan akibatnya. 

Sambil berdoa agar segera ditemukan obat untuk Corona, marilah kita patahkan prediksi para ahli pandemi bahwa pada puncaknya Corona akan menelan 50 juta nyawa manusia di dunia, dengan menghadapi Corona dengan DISIPLIN…….DISIPLIN……dan DISIPLIN.

Terakhir, mari kita juga DISIPLIN memperbanyak mohon AMPUNAN kepada Allah, karena sesungguhnya semua musibah yang datang itu disebabkan oleh kelalaian manusia itu sendiri.

Mari kita bersatu melawan Corona dengan DISIPLINKITA BISA.  INDONESIA BISA.

Dwi Pudjiarso

Safety The Leader Way 01Selamat tahun baru 2020 terutama para sahabat sehabitat para praktisi safety.  Tahun 2019 baru saja berlalu.  Pergantian tahun adalah moment yang tepat untuk bersyukur, melakukan evaluasi, dan sekaligus memperbarui komitmen.  Saya yakin tiga ritual tahunan tersebut masih relevant untuk dipakai di bidang keselamatan kerja.

Dari sisi K3, tahun 2019 masih jauh dari bisa disebut sebagai tahun yang aman.  Keresahan Dr. Drew Rae bahwa masih banyaknya kecelakaan ditengah banyaknya kegiatan safety dan dokumen safety yang kita lakukan, semakin memperkokoh bahwa kebenaran pernyataannya sebagai pakar keselamatan.  Namun demikian, marilah kita syukuri bahwa kita masih dipertemukan dengan tahun baru ini untuk memperbarui komitmen kita membuat safety lebih baik di sepanjang 365 hari ke depan.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2020 ini, saya ajak para sahabat praktisi safety khususnya, untuk berkomitmen menjalankan setiap program safety, “the leader way”.  Yaitu menjalankan safety the leader way.  Yaitu bagaimana pemimpin menerapkan safety.

Elemen leadership itu banyak.  Apapun yang kalau kita lakukan akan menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik, itu leadership. Berpikir konseptual, mendemonstrasikan visual commitment, pelibatan dan pemberdayaan karyawan, apresiasi dan rekognisi, keteladanan, go beyond dan coaching, adalah beberapa contoh sikap kepemimpinan yang bisa kita terapkan sehari-hari, juga di keselamatan kerja.

Menerapkan sifat-sifat leader tidak usah menunggu anda menduduki jabatan managerial terlebih dahulu.  Dengan mempraktekkan pola pikir dan perilaku kepemimpinan tersebut di atas di dalam menjalankan program safety, kita sudah menjadi pemimpin.  Kita sudah menjalankan program safety the leader way.  Apapun jabatan kita sekarang. 

Pada kesempatan ini, mari kita praktekkan sikap-sikap leadership di atas untuk menerapkan program safety yang paling sederhana, yaitu “P2H”.  P2H adalah kependekan dari Pemeriksaan dan Pengecekan Harian, atau lebih populer disebut Pre Start Check.  Yaitu pemeriksaan terhadap kondisi alat sebelum kita mengoperasikannya. Program ini merupakan tugas rutin para pengemudi atau operator sebelum mereka mengendarai kendaraannya.

Jadi bagaimana menjalankan program P2H the leader way? 

Pertama, leader memahami program P2H secara konseptual.  Yaitu bagaimana program P2H bisa mencegah kecelakaan.  Agar bisa mencegah kecelakaan, leader akan memastikan pemeriksaan P2H terhadap kendaraan harus bisa mendeteksi kerusakan yang bisa berakibat fatal. Dalam berkendaraan kerusakan yang bisa berakibat fatal adalah kondisi ban, roda, rem, setir, serta perlengkapan safety lainnya seperti lampu, seatbelt, head rest, APAR, dst.  Maka leader akan membuat program P2H di perusahaannya dijalankan sampai bisa mendeteksi kondisi item-item kritis tersebut sebelum alat dijalankan.  Ini contoh penerapan elemen leadership pertama Konseptual.

Kedua, visual commitment.  Komitmen atau tekad kita untuk serius membuat P2H betul-betul bisa mendeteksi item-item kritis kendaraan tadi, harus terpancar dari seluruh bahasa tubuh kita, sampai bisa dirasakan oleh para pengemudi dan atasan pengemudi.  Artinya, seorang leader tidak bisa hanya sekedar pura-pura serius atau basa basi saja. Seorang leader harus total.

Ketiga, pelibatan dan pemberdayaan. Seorang leader tidak akan membuatkan checklist P2H untuk para pengemudinya. Leader akan melibatkan dan memberdayakan para pengemudi untuk membuat checklist P2H mereka. Leader akan melibatkan para pengemudi turut berpikir membuat checklist yang bisa mendeteksi kondisi item-item kritis (ban, roda, setir, rem dan perlengkapan safety) kendaraan secara akurat.  Leader mendorong agar isi checklist P2H itu datang dari kepala para pengemudi, bukan dari dirinya.

Keempat, apresiasi dan rekognisi. Ketika para pengemudi telah menemukan item-item checklist yang diinginkan, leader akan segera memberi apresiasi atau penghargaan serta pengakuan atas kontribusi pemikirannya. Hal ini akan membuat para pengemudi merasa menjadi pemilik program P2H di perusahaannya. W. Edwards Deming mengatakan: “Orang akan mendukung apa yang ia ikut menciptakan”.

TSAP Batch 5_2Pada suatu pelatihan safety leadership untuk level manajemen, setelah saya uraikan eIemen-eIemen dan leadership, saya bawakan sebuah cerita pribadi saya sebagai seorang manager K3. Ceritanya begini:

Saya berkendaraan menuju masjid untuk sholat Jumat. Karena asyik ngobrol, di sebuah pertigaan yang harusnya memutari drum, saya memotong jalan untuk belok ke kanan. Waktu tersadar saya telah berbuat kesalahan, saya telah terlambat dan tidak bisa mundur lagi. Gerakan spontan saya adalah melihat kaca spion, berharap tidak ada mobil di belakang.

Yang terjadi sebaliknya, di kaca spion terlihat jelas ada 3 kendaraan yang sama-sama dalam perjalanan menuju masjid. Dengan jelas pula terlihat ketiga kendaraan itu turut memotong pertigaan tersebut, persis seperti yang baru saja saya lakukan. Seperti umumnya di sebuah kota tambang, nomor mobil pejabat perusahaan dihafal oleh semua karyawan, termasuk nomor lambung mobil safety manager.

Otak saya berpikir cepat apa yang harus saya lakukan. Maka sebelum sampai masjid, di sepenggal jalan yang agak luas, saya meminggirkan kendaraan dan berhenti. Saya segera keluar dan mobil dan menghentikan 3 mobil di belakang satu persatu. “Pak maaf ya, tadi saya salah. Harusnya saya memutar drum” Jawaban mereka enteng saja, “Oh, kirain sekarang boleh pak Dwi.  Satu persatu, saya minta maaf, dan respon mereka kurang lebih sama.

Dan cerita tersebut, saya ajak kembali peserta pelatihan leadership, untuk menganalisa kisah itu dan kacamata leadership yang sedang kita bahas. Luar biasa respon dan peserta, di antaranya adalah sebagai berikut:

Contoh lebih mudah diikuti daripada ucapan pak, kata salah satu dan mereka.”Betul”, Jawab saya. Langsung saya beri ’toss’ dan hadiahi pin. Apalagi?
Di luar perkiraan saya, ternyata dari dongeng itu, muncul jawaban peserta pelatihan yang vaniasinya sangat luar biasa. Di antaranya adalah: Tindakan kita diawasi terus oleh karyawan, sehingga kita tidak boleh berbuat Salah sedikitpun. Seorang pemimpin harus berani mengaku salah. Pemimpin harus berani minta maaf. Pemimpin harus memberi contoh baik di jam kerja maupun di luar jam kerja.  Perilaku pemimpin di luar jam kerja pun tetap harus menjadi teladan. Kalau pak Dwi tidak berhenti meminta maaf, trust karyawan kepada pak Dwi akan Iangsung drop. Kalau pak Dwi tidak sempatkan stop untuk meminta maaf, pak

Dwi tidak akan bisa menegakkan aturan safety lainnya lagi. Pasti akan berbalik ke pak Dwi “Ah pak Dwi juga melanggar kemarin”. Dan, kalau satu rambu safety boleh dilanggar seorang pejabat, berarti rambu lainnya boleh langgar juga bahkan ada peserta yang membuat komentar hebat: Komitmen pak Dwi akan diragukan oleh karyawan, kredibilitas pak Dwi akan tergerus, integritas pak Dwi akan disangsikan.

Sungguh jauh diluar dugaan saya, cerita saya tersebut telah membuat para peserta bisa membayangkan aplikasi elemen demi elemen leadership yang sedang kita bahas, ke dalam perilaku sehari-hari sebagai pemimpi.  Tanpa mendongeng sebuah kasus yang telah saya alami sendiri tersebut, saya akan kesulitan mencari contoh-contoh nyata penerapan elemen leadership yang mudah diterima oleh mereka.

Dongeng juga merupakan metode mengajar yang menyenangkan, apalagi kalau kita pintar membawakan Dongeng kita sendiri akan memberikan legitimasi yang kuat bahwa kita sudah pernah menjalankan sendiri topik pelatihan yang sedang kita bawakan.  Sehingga kita bukan hanya bisa meng-influence peserta training, tetapi kita bisa meng-convince peserta training, karena kita sudah teruji pernah sukses menjalankannya sendiri.

Dari cerita di atas, terlihat jelas power dan sebuah cerita. Sebuah cerita atau kisah yang sesuai dan dibawakan dengan baik, mampu menggerakkan daya imajinasi mereka untuk menangkap bagaimana pentingnya materi training itu untuk diterapkan, dan apa risikonya apabila tidak.

Sejak saat itu, saya selalu menampilkan dongeng-dongeng atau kisah-kisah saya sebagai salah satu metode itu di setiap pelatihan-pelatihan. Peserta training saya sudah banyak sekali, dan tidak terduga ketika berjumpa di manapun, masih banyak yang ingat dongeng-dongeng safety saya, meski mungkin isi keseluruhan dan training itu sendiri sudah tidak mereka ingat detilnya.

Namun tentu saja, kisah yang mujarab adalah kisah din sendiri. Dan untuk mendapatkan kisah, tentunya kita harus implementasi di lapangan. Karena dengan implementasi, kita akan mendapatkan success story dan dongeng dongeng baru. Selamat mencoba story telling di setiap pelatihan. Selamat menerapkan program safety agar mendapatkan kisah-kisah baru yang bisa dijadikan bahan story telling.

  Artikel Story Telling AArtikel Story Telling

Terbit dimajalah KATIGA

Edisi No.71 I November – Desember I Hal 32 – 33

Mengenalkan Nilai Safety Sejak Dini

Kata-kata yang tidak asing di dunia industri adalah Safety Culture atau Budaya K3. Tulisan “Budaya K3” hampir ada disemua spanduk K3, apalagi pada bulan K3 Nasional.

Apa sih yang disebut Budaya K3?  Lalu, Apa sih budaya itu sendiri?  Banyak definisi budaya dari yang paling canggih sampai yang paling sederhana.  Mari kita ambil definisi budaya yang mudah kita sambungkan dengan safety.  “Budaya adalah kesepakatan suatu kelompok manusia untuk berpola pikir dan berperilaku tertentu yang dianggap tinggi, beretika, bermartabat, bahkan mulia, yang kalau tidak melakukan akan dianggap tidak berbudaya atau tidak bermartabat oleh kelompoknya”.

Dalam budaya Jawa, kalau berjalan di depan orang yang lebih tua harus dengan posisi membungkuk, kepala menunduk, dengan tangan telapak tangan kanan di depan dengan posisi terbuka miring, dan tangan kiri di belakang dengan posisi serupa.  Berjalan seperti itu bukan masalah benar salah, tetapi sudah disepakati oleh komunitas Jawa sebagai sikap dan perbuatan yang sopan, tahu tatakrama, bermartabat dan serta dianggap tinggi.  Akan dianggap tidak tahu sopan-santun dan tidak bermartabat oleh masyarakat Jawa kalau tidak bersikap dan berperilaku seperti itu, karena berjalan dengan cara seperti itu sudah disepakati sebagai salah satu nilai hidup orang Jawa.  Itulah budaya.

Untuk Budaya Safety, prinsipnya juga sama.  Bagaimana kita di dalam satu perusahaan bisa menyepakati bahwa berpola pikir dan berperilaku safety adalah perbuatan yang educated, bermoral, bermartabat, tinggi serta sangat mulia, dan kalau tidak menerapkan safety, akan kita pandang sebagai perbuatan yang uneducated, tidak berpendidikan, tercela bahkan memalukan. 

Proses tersebut tentu saja membutuhkan waktu yang panjang.  Budaya atau kesepakatan memakai nilai hidup yang sama di suatu organisasi tidak tumbuh dalam waktu sehari dua hari.  Budaya perlu waktu bertahun-tahun, puluhan tahun untuk terbentuk dan tumbuh menjadi suatu budaya yang kokoh.  Itupun kalau caranya benar dan leadership pimpinannya kuat.  Kalau caranya salah atau leadership  pimpinannya lemah, budaya yang kita inginkan tidak akan pernah terbentuk, bahkan sampai kiamat ketujuh pun.

Jadi berbudaya safety adalah kesepakatan bersama untuk berpola pikir dan berperilaku safety mengikuti nilai-nilai safety perusahaan.  Kata kunci budaya K3 disini adalah KESEPAKATAN BERSAMA  ………berPOLA PIKIR dan berPERILAKU SAFETY, dan mengikuti NILAI-NILAI  SAFETY dari perusahaan kita.

Maka syaratnya kita harus terlebih dahulu memiliki nilai-nilai safety.  Kalau belum punya nilai safety, lalu apa yang harus dijalankan.  

Ya mari kita buatkan.  Karena kalau gak punya ya gak bisa kita bangun budaya safety.   Sederhananya membuat nilai safety adalah sbb:

  1. Pelajari Value Perusahaan anda
  2. Pilih kata nilai safety yang paling cocok dari contoh ini (Integrity, respect, excellence, accountability, just, commitment, teamwork, trust, innovation, Diversity, Openness, Quality, Honesty, Passion, Collaboration, Commitment, dsb) yang paling sesuai dengan Value Perusahaan.
  3. Lalu kata-kata nilai safety yang sudah anda pilih, satu persatu berikan uraian penjelasan, masing-masing cukup satu kalimat.
  4. Lalu bawa draft nilai-nilai safety tersebut ke dalam meeting Komite KP Level Manajemen untuk direview.
  5. Kalau ada masukan perbaiki, sampai nilai safety tersebut diapprove komite.
  6. Kalau sudah diapprove, selamat, perusahaan anda sudah memiliki nilai-nilai safety.
  7. Buatkan program kerja untuk setiap nilai safety anda, dan bawa ke Management Safety Committee untuk mendapatkan approval.
  8. Review nilai-nilai safety di Meeting Tinjauan Tahunan untuk dipastikan bahwa sudah pas dan tidak perlu direvisi lagi.

Setelah perusahaan anda resmi memiliki NILAI SAFETY, maka tugas anda tinggal menguasai betul nilai-nilai safety tersebut, lalu mengkampanyekannya besar-besaran semenarik mungkin, di semua lini, bahkan sejak proses awal perekrutan karyawan.  Masukkan nilai safety perusahaan ke dalam agenda perekrutan karyawan.  Pertama, sampaikan kepada calon karyawan waktu perkenalan, sebelum tahap wawancara.

Budaya Safety 3Mari kita introspeksi diri yang kita jalankan di perusahaan kita masing-masing selama ini? Sudahkah perusahaan anda memiliki nilai-nilai safety? Sudahkah nilai safety perusahaan Anda dijabarkan menjadi program yang bisa dipraktekkan oleh setiap karyawan menjadi perilaku yang bisa diukur? Sudahkah nilai safety menjadi buah bibir semua pimpinan perusahaan dari paling atas sampai pengawas lapangan?

Kalau belum mari kita tumbuhkan budaya K3 itu?

Untuk itu mari kita mulai sekarang.  Karena Golden Rules kata-katanya sudah jelas hanya dengan membaca, biarlah daftar golden rules tersebut tetap menempel di dinding, membeku dingin tidak usah dikampanyekan lagi. Semua karyawan sudah hafal bahkan mereka tercekam ketakutan kalau tidak melakukan.

Ingatlah bahwa budaya safety adalah kesepakatan untuk berpola pikir dan berperilaku safety sebagai nilai yang baik, tinggi, bermartabat, serta mulia, oleh nilai safety disampaikan serta nilai-nilai perusahan. Kedua, Pembahasan nilai safety diulangi lagi dengan lebih detail pada saat wawancara.

Masukan nilai safety perusahaan kedalam bahan induksi karyawan baru, Pertama nilai-nilai safety di sampaikan setelah nilai-nilai perusahaan. Kedua nilai safety disampaikan lagi dalam sambutan oleh pimpinan (top manajemen) dalam video induksi sebagai bagian dari komitmennya,

Masukkan nilai safety perusahaan kedalam materi induksi area atau lapangan. Setelah itu baru dilanjutkan dengan materi induksi lainnya sampai selesai.

Setelah bekerja rutin, Karyawan baru akan berjumpa ‘nilai safety’ lagi di semua program safety rutin perusahaan dan di semua publikasi perusahaan.

Maka cobalah hitung, dengan cara diatas, berapa kali setiap karyawan baru, mendapat pesan nilai safety perusahaan? Setidaknya mereka sudah mendengar nilai safety sebanyak 5 kali sebelum mereka mulai bekerja, yang disampaikan oleh (1) Bagian perekrutan dari HR sebanyak 2 (dua) kali. (2) Penugas induksi umum sebanyak 1 (satu) kali. (3) Dari pidato top manajemen di dalam video induksi area atau lapangan sebanyak 1 (satu) kali.

Karena itu mari kita kampanyekan besar-besaran dalam bahasa safety yang mulai dan sejuk

Mari kerasnya golden rules pelan-pelan kita tutupi dengan sejuknya golden values, yaitu nilai safety yang masuk ke dalam program kerja sehari-sehari, yang bisa dihayati di dalam hati oleh setiap karyawan, untuk diamalkan oleh mereka menjadi perilaku, yang dilakukan terus menerus menjadi kebiasaan, yang selanjutnya akan menjadi budaya, yaitu kumpulan pola pikir dan perilaku yang mulia dari kita semua di perusahaan kita.

Budaya Safety 2 Budaya Safety 1

Terbit dimajalah KATIGA

Edisi No.70 I Agustus – September I Hal 42 – 43