Fresh Graduate Work and Learn Program (FGWLP) Angkatan IV

10 Januari – 28 Maret 2022

Graduation FGWLP IV
No Nama Kasifikasi Nomor Sertifikat
1 Aqilla Farida Azzahra Arifin EXCELLENT 027/III/2022/FGWLP/INDOSHE
2 Dimas Amanda Putra
VERY GOOD 028/III/2022/FGWLP/INDOSHE
3 Helsa Andre Saputra VERY GOOD 029/III/2022/FGWLP/INDOSHE
4 Herlinda VERY GOOD 030/III/2022/FGWLP/INDOSHE
5 Ineza Brigitha VERY GOOD 031/III/2022/FGWLP/INDOSHE
6 Jupriyono VERY GOOD 032/III/2022/FGWLP/INDOSHE
7 Kintan Suci Nabilla VERY GOOD 033/III/2022/FGWLP/INDOSHE
8 Muhammad Hendra Kurniawan VERY GOOD 034/III/2022/FGWLP/INDOSHE
9 Naura Dhia Boneta EXCELLENT 035/III/2022/FGWLP/INDOSHE
10 Ninda Ayu Narassati EXCELLENT 036/III/2022/FGWLP/INDOSHE
11 Teuku Ghifaqi Jourdan VERY  GOOD 037/III/2022/FGWLP/INDOSHE

Edaran KAIT Pencegahan dan Pengendalian COVID-19

Edaran KAIT Pencegahan dan Pengendalian COVID-19

KTT dan PJO Perusahaan Pertambangan Minerba Seluruh Indonesia

Limbah Pandemi Covid-19 Mengancam Kesehatan dan Lingkungan

Limbah medis untuk penanganan pandemi Covid-19 telah menjadi ancaman kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Perlu upaya serius untuk mengatasi persoalan ini.

Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa sejumlah besar limbah yang dihasilkan dalam menangani pandemi Covid-19 telah menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Puluhan ribu ton limbah medis tambahan telah membebani sistem pengelolaan limbah perawatan kesehatan dan sebagian berakhir di lingkungan.

Laporan yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (1/2/2022) menyebutkan, sekitar 1,5 miliar unit alat pelindung diri (APD), setara 87.000 ton, yang diperoleh antara Maret 2020 dan November 2021, telah dikirim ke sejumlah negara melalui sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Padahal, hal ini hanya sebagian kecil dari total APD yang digunakan secara global. Sebagian besar peralatan ini kemungkinan berakhir sebagai limbah.

â€Sangat penting untuk menyediakan APD yang tepat bagi petugas kesehatan. Tetapi juga penting untuk memastikan bahwa itu dapat digunakan dengan aman tanpa berdampak pada lingkungan sekitar,†kata Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan dalam siaran pers.

Layanan manajemen yang aman untuk limbah perawatan kesehatan masih kurang, bahkan sebelum pandemi.

Selain APD, ada lebih dari 140 juta alat tes telah dikirimkan dengan potensi menghasilkan 2.600 ton terutama sampah plastik, non-infeksius, dan 731.000 liter sampah kimia. Sekitar 97 persen sampah plastik dari pengujian itu dibakar.

Sebanyak 8 miliar dosis vaksin Covid-19 pertama yang diberikan secara global juga menghasilkan 144.000 ton limbah tambahan seperti jarum suntik, jarum suntik, dan kotak pengaman. WHO tidak merekomendasikan penggunaan sarung tangan untuk suntikan vaksin, tetapi laporan itu mengatakan itu tampaknya menjadi praktik umum. Sarung tangan, dalam hal volume, merupakan proporsi terbesar dari limbah APD dari semua barang yang dibeli oleh PBB.

Limbah penanganan pandemi ini juga menjadi masalah serius di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar tahun lalu melaporkan, sejak Maret 2020 hingga Juni 2021, Indonesia telah menghasilkan 18.460 ton limbah medis kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) dari penanganan Covid-19.

â€Limbah medis tersebut berasal dari fasilitas layanan kesehatan, rumah sakit darurat, tempat isolasi, karantina mandiri, uji deteksi dan kegiatan vaksinasi. Limbah yang termasuk limbah medis B3 di antaranya infus bekas, masker, botol vaksin, jarum suntik, face shield, perban, hazmat, APD, pakaian medis, sarung tangan, alat PCR dan antigen, serta alkohol pembersih swab,†kata Siti Nurbaya sebagaimana bisa dilihat Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (28/7/2021).

Padahal, data tersebut belum meliputi angka yang sesungguhnya. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) memperkirakan jumlah limbah medis bisa mencapai 493 ton per hari.

Solusi praktis

Laporan WHO setebal 71 halaman itu juga memperingatkan bahwa layanan manajemen yang aman untuk limbah perawatan kesehatan masih kurang, bahkan sebelum pandemi. Data terbaru yang tersedia, dari 2019, menunjukkan bahwa satu dari tiga fasilitas kesehatan secara global tidak mengelola limbah perawatan kesehatan dengan aman.

â€Ini berpotensi membuat petugas kesehatan mengalami cedera akibat tusukan jarum, luka bakar, dan mikroorganisme patogen, sementara juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik dan tempat pembuangan limbah melalui udara yang terkontaminasi dari limbah yang terbakar, kualitas air yang buruk, atau hama pembawa penyakit,†sebut laporan ini.

Laporan tersebut merekomendasikan solusi praktis, seperti penggunaan APD secara lebih rasional, menggunakan lebih sedikit kemasan, mengembangkan APD yang dapat digunakan kembali, menggunakan APD yang terbuat dari bahan biodegradable, berinvestasi dalam teknologi pengolahan limbah non-bakar, sentralisasi pengelolaan sampah, dan berinvestasi dalam produksi APD lokal.

Sumber: https://www.kompas.id/

Kementerian ESDM buka kembali ekspor batu bara

Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) membuka kembali ekspor batu bara setelah sempat dilarang sepanjang Januari 2022.

Keputusan itu diterbitkan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM dalam surat bernomor T 444/MB.05/DJB.B/2022 tentang Pencabutan Pelarangan Penjualan Batubara ke Luar Negeri.

Dirjen Minerba Ridwan Djamaluddin menerangkan bahwa pembukaan tersebut diberikan setelah pemerintah memastikan pasokan batu bara dan persediaannya pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) PT PLN (Persero) dan IPP sudah dalam kondisi baik.

“Berdasarkan hal tersebut di atas, dengan ini disampaikan bahwa pelarangan penjualan batubara ke luar negeri terhadap pemegang izin pengangkutan dan penjualan komoditas batu bara dicabut,” kata Ridwan dalam surat tersebut dikutip, Selasa (1/2/2022).

Surat bertanggal 28 Januari tersebut ditujukan kepada perusahaan pemegang PKP2B, IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi dan IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian serta pemegang izin pengangkutan dan penjualan. Meski demikian, kementerian meminta agar perusahaan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO).

Adapun tahun ini pemerintah menargetkan produksi batu bara dapat mencapai 663 juta ton hingga Desember 2022. Angka ini sejatinya naik dari target tahun 2021 yakni 625 juta ton meski hanya terealisasi 98,2 persen atau 614 juta ton. Dari total target tahun ini, pemerintah mewajibkan perusahaan tambang memenuhi DMO batu bara dengan total 165,7 juta ton dan sisanya untuk kebutuhan ekspor.

Sementara itu, keputusan pemerintah melarang ekspor batu bara sepanjang Januari diakibatkan pasokan batu bara pada 17 PLTU milik PLN dan IPP dalam kondisi kritis. Pemerintah kemudian melakukan aksi cepat untuk memastikan pasokan batu bara pembangkit dapat terpenuhi.

Pasalnya, kondisi tersebut mengancam operasi pembangkit listrik di sebagian wilayah Indonesia. Padahal perusahaan tambang telah diminta memasok 5,1 juta ton batu bara dari penugasan pemerintah. Namun hingga 1 Januari hanya terpenuhi 35.000 ton.

Sumber – https://www.kabarbisnis.com/

Sebutkan elemen atau bahan yang menyebabkan terjadinya api.

  1. …………………………………………………………….
  2. …………………………………………………………….
  3. …………………………………………………………….

(Ini form kosong. Safety talk dimulai dg interaktif menggali dari peserta dulu. Brainstorming.)

 Alat Pemadam Api Ringan

Untuk memahami cara kerja APAR, Anda perlu memahami sedikit tentang api. Agar menghasilkan api, terdapat 3 elemen yang harus ada pada saat yang bersamaan:

Bisa mulai dari menjelaskan segitiga api dengan ilustrasinya

  • Oksigen yang cukup untuk mempertahankan pembakaran,
  • Panas yang cukup untuk menaikkan bahan ke suhu yang menimbulkan api, dan
  • Bahan bakar atau bahan yang mudah terbakar.

Pemilihan APAR yang tepat sangat berhubungan dengan elemen tersebut, apa hubungannya? (diskusi dengan peserta)

APAR digunakan untuk memadamkan api kecil dan mencegah kebakaran yang lebih besar. Alat ini menggunakan agen yang akan mendinginkan bahan yang terbakar, menghilangkan oksigen, atau menghentikan reaksi kimia sehingga api dapat dipadamkan. APAR tersedia dalam beberapa tipe tergantung sumber api/bahan yang terbakar.

 

Pengendalian Kebakaran

Jika Anda menemukan kebakaran di tempat kerja, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membunyikan alarm diikuti dengan menelepon layanan darurat.

Jika keadaan memungkinkan, Anda harus berusaha memadamkan api dengan menggunakan alat pemadam api terdekat. Namun lakukan ini HANYA JIKA Anda tahu kelas apinya, jika besarnya api dapat ditangani (yaitu, apinya berada di area kecil seukuran tong sampah), dan Anda telah dilatih tentang cara menggunakan APAR dengan benar. Apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat jika syarat tersebut tidak terpenuhi? (diskusi dengan peserta)

Bagaimana Langkah menggunakan APAR yang benar? (biarkan peserta menjawab)

Hal yang Harus Diperhatikan

  • Ketahui di mana letak alat pemadam api terdekat saat bekerja.
  • Pastikan Anda tahu cara kerjanya dan jika tidak, minta kepada atasan untuk diadakan pelatihan menggunakan APAR.
  • Pahami waktu penggunaan yang tepat dan batasan alat pemadam api.
  • Pastikan bahwa akses menuju APAR selalu bersih dan tidak terhalang apa pun.
  • Laporkan jika Anda melihat kondisi APAR yang kurang baik seperti tabung berkarat, pin terlepas, dll.
  • Jika Anda tidak yakin apa yang harus dilakukan dengan APAR, tanyakan pada supervisor.

Peragaan:
Peragaan menggunakan APAR.

 

Identifikasi area kerja yang berpotensi terjadi kebakaran.

  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………

BANGGA MENJADI KARYAWAN PROFESIONAL, YAITU:

  • Hanya MENGERJAKAN tugas yang ia telah diberi pelatihan.
  • Tidak melakukan pekerjaan yang BUKAN TUGASnya.
  • Tidak MENGOPERASIKAN kendaraan atau unit yang TIDAK memiliki SIMPER.
  • MENGENALI bahayanya dulu SEBELUM mulai mengerjakan sesuatu.
  • STOP dan BERTANYA bila belum tahu CARA MENGERJAKAN dengan benar.
  • MEMAKAI APD yang distandarkan untuk pekerjaan.
  • MENGIKUTI sepenuhnya prosedur atau JSA yang telah ditetapkan.
  • STOP pekerjaan dan LAPOR atasan, bila prosedur atau JSA yang ada tidak bisa diikuti.
  • Aktif TERLIBAT diskusi di dalam SAFETY MEETING.

DAFTAR HADIR

No

Nama

Id

Tanda Tangan

Penulis: Ni Luh Nyssa Divana

Sebutkan hal-hal yang dapat membuat Anda tidak awas saat bekerja:

  1. …………………………………………………………….
  2. …………………………………………………………….
  3. …………………………………………………………….

(Ini form kosong. Safety talk dimulai dg interaktif menggali dari peserta dulu. Brainstorming.)

Sikap Awas dalam Pekerjaan

Anda mungkin pernah terkejut karena tidak menyadari kehadiran seseorang di dekat Anda secara tiba-tiba atau pada saat berjalan lalu tersandung sesuatu. Ini mungkin masalah kecil, tetapi hal tersebut membuktikan bahwa Anda tidak awas  dalam memperhatikan lingkungan di sekitar Anda. Di dalam pekerjaan hal ini bisa berdampak serius pada keselamatan kerja, kenapa bisa? (diskusi dengan peserta)

Bersikap awas dalam mengamati keadaan sekitar bukanlah kemampuan yang hanya dibutuhkan oleh supervisor saja. Pekerja juga bisa secara aktif mengamati area kerjanya masing-masing. Namun, terkadang ada saja hal yang membuat Anda menjadi tidak awas saat bekerja, antara lain:

  • Terganggu oleh suara keras atau aktivitas rekan kerja.
  • Bekerja secara multitasking.
  • Terburu-buru menyelesaikan tugas.
  • Bekerja dalam keadaan lelah.
  • Bekerja di tempat kerja atau kondisi yang baru.

Pernahkah Anda bekerja dalam situasi di atas? Bagaimana Anda mengatasinya? (diskusi dengan peserta)

Menjadi Pribadi yang Awas Saat Bekerja

  1. Jika memungkinkan, bekerjalah di tempat yang tenang tanpa gangguan. Hindari suara bising yang dapat mengganggu konsentrasi Anda.
  1. Luangkan waktu sebelum memulai tugas untuk berhenti sejenak dan melihat area kerja Anda lalu pastikan semua peralatan kerja dalam keadaan baik.
  2. Pada saat bekerja, fokuskan pikiran Anda pada pekerjaan tersebut. Hindari mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan. Bagaimana fokus dapat berpengaruh terhadap sikap awas dalam bekerja? (diskusi dengan peserta)
  3. Kita perlu meluangkan waktu untuk melakukan pengamatan menyeluruh terhadap objek, alat, perkakas, dan lingkungan kerja untuk suatu tugas kerja. Bersikap awas adalah keterampilan dan kita perlu melakukan upaya untuk melatihnya.
  4. Gunakan pengalaman kerja, pelajaran yang didapat, best practice atau pelatihan untuk mengidentifikasi potensi bahaya. Cobalah menempatkan diri Anda pada posisi orang lain seperti manajer atau supervisor K3 untuk melatih sikap awas dalam mengamati sesuatu.
  5. Meningkatkan kepedulian. Kepedulian merupakan motivasi terbesar Anda untuk memberi perhatian lebih pada keadaan di sekitar Anda, bagaimana pengaruh kepedulian terhadap sikap awas dalam pekerjaan? (diskusi dengan peserta)

https://id.wikihow.com/


Peragaan

Peragaan mengamati kondisi area kerja. Contoh: lantai, ventilasi, meja dll.

Identifikasi hal-hal yang sering terlewatkan saat pemeriksaan di area kerja anda.

  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………

BANGGA MENJADI KARYAWAN PROFESIONAL, YAITU:

  • Hanya MENGERJAKAN tugas yang ia telah diberi pelatihan.
  • Tidak melakukan pekerjaan yang BUKAN TUGASnya.
  • Tidak MENGOPERASIKAN kendaraan atau unit yang TIDAK memiliki SIMPER.
  • MENGENALI bahayanya dulu SEBELUM mulai mengerjakan sesuatu.
  • STOP dan BERTANYA bila belum tahu CARA MENGERJAKAN dengan benar.
  • MEMAKAI APD yang distandarkan untuk pekerjaan.
  • MENGIKUTI sepenuhnya prosedur atau JSA yang telah ditetapkan.
  • STOP pekerjaan dan LAPOR atasan, bila prosedur atau JSA yang ada tidak bisa diikuti.
  • Aktif TERLIBAT diskusi di dalam SAFETY MEETING.

DAFTAR HADIR

No

Nama

Id

Tanda Tangan

Penulis: Ni Luh Nyssa Divana

Fresh Graduate Work and Learn Program (FGWLP) Angkatan III

4 Oktober – 22 Desember 2021

Graduation FGWLP III
No Nama Kasifikasi Nomor Sertifikat
1 Adelia Eka Wahyuni VERY GOOD 016 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
2 Aditya Fauzi Rustam VERY GOOD 017 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
3 Ahmad Nailul Murod VERY GOOD 018 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
4 Fajar Tri Wiyogo VERY GOOD 019 /X/2021/FGWLP/INDOSHE
5 Joshua Azarya Yoan VERY GOOD 020 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
6 Kahlil Gibran VERY GOOD 021 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
7 Kevin VERY GOOD 022 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
8 Meilanda Sukma VERY GOOD 023 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
9 Sa’iyd Husayn Ahmadi VERY GOOD 024 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
10 Salis Nur Hidayat Riskyanto VERY GOOD  025 /IX/2021/FGWLP/INDOSHE
11 Shakilah Farahdiba B. VERY  GOOD 026 /XII/2021/FGWLP/INDOSHE
         

Sebutkan manfaat pola pikir positif bagi keselamatan kerja.

  1. ………………………..………………………………………………………………….
  2. ………………………..………………………………………………………………….
  3. ………………………..………………………………………………………………….

(Ini form kosong. Safety talk dimulai dg interaktif menggali dari peserta dulu. Brainstorming.)

Pola pikir positif

Pola pikir tidak hanya memengaruhi seberapa baik Anda melakukan pekerjaan, tetapi juga seberapa aman Anda saat melakukannya. Orang yang positif biasanya berpikiran terbuka dan mempertimbangkan hasil dari perilaku mereka.

Pola pikir keselamatan

Ketika Anda memiliki pola pikir keselamatan yang positif, Anda berpikir terlebih dahulu dan kemudian mengambil tindakan. Pikiran Anda mampu mengenali kebiasaan atau perilaku yang tidak aman. Anda mengenali bahaya yang muncul dan merespons dengan tepat. Dengan pola pikir keselamatan yang positif, Anda mengembangkan kebiasaan kerja yang mengarah pada efisiensi yang lebih besar.


Tujuan Pola Pikir Keselamatan

Apa tujuan pola pikir keselamatan? (biarkan peserta menjawab)

  • Melindungi karyawan dan properti.
  • Mencegah semua jenis kecelakaan dan near miss.
  • Selalu siap untuk keadaan darurat.
  • Meningkatkan lingkungan dan moral kerja.

Mengembangkan Pola Pikir Positif

Pola pikir keselamatan kerja yang baik diwakili oleh perhatian, keinginan, kewaspadaan, kehati-hatian, fokus dengan tugas, berorientasi pada tim dan keseriusan. Berikut hal-hal yang dilakukan untuk mengembangkan pola pikir keselamatan.

  1. Rekognisi

Kenali apakah pola pikir Anda lebih condong ke sisi negatif. Tanyakan pada diri sendiri bagaimana sikap Anda hari ini dan mengapa dalam keadaan itu. Jika hasilnya negatif maka Anda perlu mencoba memperbaikinya, menjadi pekerja yang lebih aman dan efisien.

  1. Kenali sumber masalah

Anda perlu menemukan sumber masalah yang membuatnya menjadi negatif. Apa yang menjadi sumber masalah di tempat kerja Anda? (diskusi dengan peserta)

  1. Mengatasi masalah

Luangkan waktu untuk membahas apa yang berdampak negatif pada pola pikir Anda.

  1. Tetap perhatikan pola pikir Anda.

Penting untuk melakukan pemeriksaan diri setiap hari. Cara yang baik untuk melakukannya adalah dengan memperhatikan pikiran Anda atau percakapan Anda dengan orang lain.

Komunikasi, Teamwork, dan Leadership adalah keterampilan yang dapat dikembangkan dan berpengaruh besar dalam pola pikir positif, mengapa 3 hal ini penting untuk dipahami dan dikembangkan? (diskusi dengan peserta)

Attitude atau pola pikir ini memang tidak mudah untuk dipelajari namun kita harus disiplin dalam menerapkannya agar bisa menjadi kebiasaan yang baik.

Peragaan

Mengambil kesimpulan dari peserta untuk mengetahui sejauh mana pemahamannya.

Identifikasi hal-hal yang menghambat pengembangan pola pikir positif di area tempat kerja Anda.

  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • ………………………………………………………………………………………………………………………………………

BANGGA MENJADI KARYAWAN PROFESIONAL, YAITU:

  • Hanya MENGERJAKAN tugas yang ia telah diberi pelatihan.
  • Tidak melakukan pekerjaan yang BUKAN TUGASnya.
  • Tidak MENGOPERASIKAN kendaraan atau unit yang TIDAK memiliki SIMPER.
  • MENGENALI bahayanya dulu SEBELUM mulai mengerjakan sesuatu.
  • STOP dan BERTANYA bila belum tahu CARA MENGERJAKAN dengan benar.
  • MEMAKAI APD yang distandarkan untuk pekerjaan.
  • MENGIKUTI sepenuhnya prosedur atau JSA yang telah ditetapkan.
  • STOP pekerjaan dan LAPOR atasan, bila prosedur atau JSA yang ada tidak bisa diikuti.
  • Aktif TERLIBAT diskusi di dalam SAFETY MEETING.

DAFTAR HADIR

No

Nama

Id

Tanda Tangan

Penulis: Ni Luh Nyssa Divana