harga-batu-bara-naik-tetap-harus-efisienPara penggiat bisnis pertambangan diingatkan agar tak terlena atas menguatnya harga komoditas. Terutama untuk batu bara. Efisiensi tetap penting diperhatikan, mengingat gejolak dari dampak global bisa terjadi kapanpun.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) BambangTjahjono mengatakan, harga komoditas sangat bergantung permintaan dunia. Sentimen global, kata dia, bisa berubah dalam waktu singkat.

Hal tersebut, kata dia, terjadi saat harga komoditas tambang, seperti batu bara dan minyak mentah dunia, anjlok beberapa tahun lalu. Karenanya, efisiensi tetap menjadi tuntutan, meski sekarang euforia atas naiknya harga komoditas masih berlanjut.

“Efisiensi biaya perawatan paling memungkinkan, untuk mengantisipasi kalau-kalau harga komoditas andalan nanti anjlok. Jadi, kalaupun harganya nanti turun lagi, tidak perlu ambil langkah ekstrem, semisal PHK massal,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam seminar pertambangan di Balikpapan, Rabu (28/2) lalu.

Apalagi, lanjut Bambang, biaya perawatan peralatan merupakan pengeluaran terbesar kedua setelah bahan bakar. Efisiensi dari sisi operasional, menurutnya juga perlu. “Tapi yang paling tepat saat ini adalah perawatan, karena porsinya sanat besar,” terangnya dalam seminar yang berlangsung di Swiss-Belhotel Balikpapan itu.

Dia juga menyarankan, pengusaha batu bara jangan hanya mengandalkan pasar ekspor, karena risiko fluktuasi harga yang lebih tinggi. Meski harga jualnya tak semenarik di pasar internasional, Bambang menyarankan agar para penambang batu bara mulai membiasakan penjualan domestik. Yakni untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kepada PT PLN. Dengan kebutuhan daya yang masih besar, menurutnya, market domestik lebih aman untuk jangka panjang.

“Produksi batu bara Kaltim itu paling besar, disusul Kalsel. Otomatis dampaknya terhadap ekonomi juga besar kalau terjadi gejolak harga. Makanya, biar aman, kenapa tidak pembangkit listrik didorong untuk menggunakan batu bara,” jelasnya.

Kementerian ESDM memang menetapkan harga batu bara acuan (HBA) Februari ini kembali naik menjadi USD 100,69 per ton, dari posisi USD 95,54 per ton pada Januari lalu. Sementara sepanjang tahun lalu, HBA pemerintah tercatat naik lebih sekitar 36 persen dibanding 2016.

Kenaikan harga batu bara awal tahun ini dipicu tingginya permintaan dari Tiongkok untuk kebutuhan musim dingin. Di sisi lain, juga karena terhambatnya produksi dan pengiriman batu bara karena cuaca di negara tersebut.

Pertumbuhan produksi batu bara di Kaltim ternyata tak sebesar persentase kenaikan harganya. Jika nilai jual emas hitam sepanjang tahun lalu melonjak hingga 36 persen, angka produksinya hanya naik 8,1 persen. (aji/man/k15)

Sumber – www.kaltim.prokal.co

 

Kinerja solid emiten tambang batubara diproyeksi bakal berlanjut pada semester ini

Sejumlah emiten tambang batubara berhasil mencatatkan kinerja yang solid berkat kenaikan harga batubara global. Sejumlah emiten produsen batubara kompak mencatatkan kenaikan pendapatan dan laba »

ESDM: Cadangan Batubara Indonesia 38,84 Miliar Ton, Cukup 65 tahun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, cadangan batubara Indonesia saat ini tercatat mencapai 38,84 miliar ton. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM »

Holding dan IPO BUMN Panas Bumi Percepat Pemanfaatan Energi Ramah Lingkungan

Kementerian BUMN merencanakan pembentukan Holding BUMN Geothermal dengan menggabungkan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT Geo Dipa Energi (Persero) dan unit bisnis panas bumi PT PLN (Persero) »

Berikan Komentar