ESDM Sebut Virus Corona Ganggu Pembangunan SmelterKementerian ESDM menyebut penyebaran virus corona mengganggu pembangunan smelter. Salah satu yang terdampak, yakni pembangunan smelter PT Virtue Dragon Nickel Industry yang berlokasi di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Bambang Gatot Ariyono mengatakan kendala disebabkan oleh pekerja smelter yang berasal dari China tidak bisa kembali ke Indonesia. Pemerintah melarang pemegang paspor China masuk dan transit di Indonesia sejak awal Februari 2020.

“Mereka terganggu karena lebih dari 300-400 pekerja dari China tidak bisa kembali,” katanya di Jakarta, Kamis (12/3).

Dengan kondisi tersebut, ia memprediksi virus corona menekan sektor minerba dalam jangka panjang. Alasannya, jika penyebaran virus masih berlanjut, maka permintaan industri akan berkurang.

Dalam jangka panjang, virus corona juga akan membebani pertumbuhan ekonomi global serta domestik, sehingga produktivitas industri juga terganggu.

“Saya kira pengaruhnya cepat atau lambat pasti ada. Kalau long term (jangka panjang) ini bisa pengaruh besar,” ucapnya.

Namun, untuk saat ini ia menegaskan virus corona belum berdampak negatif pada sektor minerba secara keseluruhan. Dampaknya baru menimpa Virtue Dragon sebagaimana yang ia sampaikan sebelumnya. Pun demikian, aktivitas produksi Virtue Dragon lainnya masih berjalan normal.

Selain itu, harga-harga komoditas minerba terpantau masih bagus, baik dari batu bara, bauksit, timah, maupun emas. Sebagai contoh, Harga Batu Bara Acuan (HBA) Maret 2020 menguat tipis 0,2 persen dari US$66,89 per ton pada Februari menjadi US$67,08 per ton di Maret 2020.

Lalu, harga emas juga menunjukkan tren naik, meskipun pada perdagangan pagi ini melemah. Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam sebesar Rp831 ribu per gram pada Kamis (12/3), turun Rp8.000 dari Rp839 ribu per gram pada Rabu (11/3).

Namun, harganya melonjak dibandingkan posisi awal tahun, yakni Rp762 ribu per gram. “Untuk saat ini, kami lihat perkembangan harga mineral, seperti timah, nikel, bauksit masih bagus. Artinya grafiknya ada perkembangan bagus, meskipun tidak signifikan tapi stabil,” imbuh dia.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba Irwandy Arif mengatakan penurunan permintaan batu bara dari China akibat virus corona masih terbilang kecil. Tercatat, Negeri Tirai Bambu memangkas permintaan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik sebesar 200 ribu ton.

“Dari enam produsen pembangkit di China sudah kurangi permintaan batu bara 200 ribu ton. Pak Menteri (Menteri ESDM Arifin Tasrif) bilang masih kecil, saya kira jutaan,” kata Irwandy.

Ia menambahkan dampak penurunan permintaan baru akan tampak pada akhir Juni 2020 nanti. Dengan catatan, virus corona masih berlanjut hingga periode tersebut.

Sumber – https://www.cnnindonesia.com/

Berikan Komentar