Inspeksi adalah salah satu program pencegahan kecelakaan yang paling populer.  Semua perusahaan industri besar kecil semua memakai pogram inspeksi.  Semua jenjang karyawan dari level pekerja sampai CEO, melakukan inspeksi.

Kegiatan inspeksi meliputi pengecekan kondisi kerja dan pengamatan terhadap perilaku karyawan. Pengamatan perilaku karyawan disebut juga observasi.  Beberapa perusahaan memisahkan Observasi dari program Inspeksi.

Artikel ini membahas bagaimana leader atau pemimpin melakukan inspeksi.  Yaitu bagaimana prisip-prinsip leadership diterapkan di dalam kegiatan inspeksi. Leader adalah orang yang kehadirannya selalu menginspirasi orang di sekitarnya untuk tumbuh dan berkembang.  Sehingga program inspeksi yang bertemu dengan karyawan di lapangan, bisa menjadi kendaraan strategis bagi anggota manajemen dalam menerapkan peran kepemimpinannya.

Prinsip leadership yang banyak dipakai untuk inspeksi adalah kehadiran di lapangan (field presence), kepedulian (care), memberikan dukungan pada team (support), berbagi visi (share vision), pelibatan karyawan (engagement), pemberdayaan karyawan (empowerment), apresiasi, kolaborasi dan coaching.

Di dalam melaksanakan inspeksi, seorang leader memiliki misi yang besar, di antaranya adalah misi untuk:

  • Menampilkan sikap kepedulian untuk membantu setiap karyawan agar bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih aman.
  • Memainkan peran sebagai role model, yang menebarkan keteladanan dalam penerapan keselamatan kerja.
  • Memastikan kehadirannya di lapangan meninggalkan pesan yang jelas kepada karyawan, tentang ekspektasi keselamatan dan kesehatan kerjanya.

Perbedaan terbesar inspeksi seorang leader dari inspeksi bukan leader adalah sbb.

Inspeksi Pada Umumnya

Inspeksi The Leader Way

  • Inspektor fokus mencari kekurangan, kesalahan dan pelanggaran.
  • Inspektor memberi perhatian kepada yang sudah baik seimbang dengan mengamati kekurangan dan pelanggaran.
  • Inspektor tidak memberi perhatian khusus kepada yang sudah berjalan baik atau sudah aman.
  • Semua kondisi dan perilaku yang sudah aman atau sudah mematuhi aturan, diberikan apresiasi.
  • Inspektor menegur adanya kondisi tidak aman dan meminta karyawan untuk mengoreksi.
  • Inspektor meminta karyawan untuk mengidentifikasi kondisi tidak aman yang ia telah identifikasi.
  • Kalau bisa mengidentifikasi kondisi tidak aman itu dimaksud, karyawan diberi apresiasi.
  • Karyawan diminta pendapatnya bagaimana memperbaiki kondisi tidak aman itu. Kalau ide perbaikannya bisa diterima, karyawan akan diberi apresiasi.
  • Semua perilaku berbahaya atau perilaku yang melanggar aturan distop, lalu karyawan diminta untuk melakukan koreksi.
  • Inspektor menghentikan pekerjaan, lalu meminta karyawan datang kepadanya.
  • Inspektor memberitahu bahwa ia mengidentifikasi adanya perbuatan tidak aman atau perbuatan pelanggaran aturan.  Karyawan diminta untuk mengidentifikasi apa perilaku berbahaya atau perilaku yang melanggar aturan yang dimaksud.
  • Dengan pertanyaan terbuka, inspektor menfasilitasi karyawan, lalu memberikan apresiasi kalau karyawan:
  • Bisa mengidentifikasi perilaku berbahaya atau perilaku pelanggaran yang dimaksud
  • Bisa menjelaskan apa bahaya dari perbuatannya
  • Bisa menyampaikan aturan yang dilanggar
  • Bisa memberikan komitmen bagaimana ke depan ia tidak mengulangi pelanggarannya

 

Perbedaan bagaimana Leader melakukan komunikasi positif selama proses inspeksi adalah sebagai berikut.

Inspeksi biasa

Inspeksi The Leader Way

Dialog #1

 

“Selamat pagi”

“Apa kabar? Baik-baik semua?”

“Bagus”

“Selamat pagi.  Bagus semuanya memakai APD lengkap.  Safety boot, helm, rompi, kacamata. Anda profesional sekali” (Kalau pada kondisi paska Covid 19, Inspektor memberi toss atau menyalami)

“Benar standar APD di shop ini adalah seperti ini”

“Apa yang anda lakukan agar ke depan, anda bisa konsisten memakai APD lengkap se profesional ini?” (Kalau jawabannya bisa diterima, Inspektor memberi apresiasi.  Kalau belum, inspektor memberi pertanyaan lainnya)

Dialog #2

 

“Awas itu bisa roboh menimpa orang.  Stop pekerjaan, perbaiki dulu!”

“Lain kali ya lihat-lihat keliling lah”

“Ok,hati-hati ya”

“Stop dulu pak, bisa ke sini sebentar?”

“Sepertinya ada yang berbahaya di area kerja ini.  Apa ya pak?” (Inspektor memberi kesempatan karyawan untuk memeriksa sekelilingnya.  Kalau belum tahu, diberi pertanyaan terbuka lagi)

“Sepertinya ada yang bisa roboh menimpa orang di sini.  Apa ya?”  (Inspektor memberi kesempatan karyawan untuk memeriksa.  Kalau karyawan mengetahui bahaya yang anda maksud, ia diberi apresiasi)

“Bagus anda mengetahui” (Inspektor lalu melempar pertanyaan terbuka lagi, untuk meminta ide untuk memperbaiki)

“Menurut anda apa yang perlu dilakukan agar tidak roboh?” (Kalau Inspektor setuju dengan idenya, ia memberikan apresiasi)

“Setuju sekali.  Ide yang bagus” (Inspektor memberi pertanyaan terbuka, bagaimana ke depan hal serupa tidak lolos dari pengamatan karyawan lagi)

“Apa yang akan anda lakukan agar ke depan bahaya-bahaya seperti ini bisa anda identifikasi dan koreksi?” (Kalau jawabannya bisa anda terima, misalnya seperti di bawah ini, berikan apresiasi)

“Akan kami tambahkan pada pre operational checklist awal shift area kerja kami pak, juga pada checklist inspeksi” (Kalau anda setuju, beri apresiasi, contoh di bawah)

“Ide yang hebat! Setuju sekali. Itu namanya langkah pencegahan yang tersistem.” (Kalau di luar kondisi Covid 19, Inspektor memberikan toss. Kemudian mengambil komitmen karyawan dengan pertanyaan tertutup)

“Anda bisa melakukan itu?” (Kalau karyawan memberi komitmen bisa, berikan apresiasi.  Di akhir dialog, tawarkan bantuan anda bila dibutuhkan)

“Kalau anda memerlukan bantuan saya, hubungi saya kapan saja ya pak”

 

Tentu terdapat 1001 kemungkinan dialog.  Dari dialog yang mudah sampai dengan dialog yang paling rumit. 

Tetapi seorang leader konsisten mengajak sekitarnya untuk terus tumbuh dan berkembang.  Leader bangga menerapkan prinsip-prinsip leadership berikut:

  • Field presence – turun ke lapangan bertemu karyawan, menunjukkan bahwa ia peduli K3 karyawan.
  • Vision – terus berbagi visi keselamatan kepada setiap karyawan yang ditemui.
  • Commitment – tidak berhenti mendemonstrasikan komitmennya untuk mendudukkan keselamatan di atas segalanya.
  • Engagement and empowerment – tanpa lelah menempatkan karyawan sebagai subyek yang dengan kemahiran pertanyaan terbuka, terus melibatkan mereka untuk turut berpikir dan menelorkan ide-ide besar. Leader siap memberikan dukungan penuh untuk mewujudkannya.
  • Apresiasi autentik – dengan tulus dari hati memberikan apresiasi secara total kepada setiap pencapaian.

Pola dialog “the leader way” di atas bisa dipakai oleh supervisor garis depan, manajemen menengah, manajeman puncak, maupun oleh para insan K3.

Dengan memakai pola inspeksi “the leader way”, target inspeksi bisa ditambah dengan target:

  • Jumlah apresiasi kepada karyawan yang harus dilakukan dalam inspeksi per minggu atau bulan.
  • Jumlah komitmen karyawan yang harus diperoleh per minggu atau per bulan.

Inspeksi cara leader ini akan membuat karyawan memahami apa ekspektasi K3 atasannya.  Karyawan semakin mengerti perilaku K3 seperti apa yang diharapkan dari dirinya.  Karyawan semakin termotivasi untuk mendapatkan apresiasi-apresiasi lebih banyak dalam penerapan K3.

Terus berlatihlah membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka (open ended questions). 

Good luck.  Sukses Inspeksi The Leader Way

Oleh: Dwi Pudjiarso

Terbit pada Majalah K3 edisi No.75/XI/2021