Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebut, tren ekspor batu bara Indonesia ke pasar dunia terus meningkat. Terlebih, batu bara Indonesia dinilai berkualitas.
Saat menjadi pembicara kunci dalam Coaltrans Asia 2020 Virtual Conference yang diselenggarakan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Agus mengatakan, batu bara merupakan produk strategis bagi Indonesia.
Berdasarkan data International Energy Agency Coal Information (2020), pada 2019 Indonesia tercatat sebagai produsen batu bara terbesar ke-4 dengan jumlah produksi sebesar 616 juta ton.
“Tren ekspor batu bara Indonesia di pasar global mengalami kenaikan yang positif sebesar 11,77 persen pada periode lima tahun terakhir (2015-2019),” kata Agus melalui keterangan resmi di Jakarta, Selasa (24/11).
Namun, pada Januari sampai September 2020, nilai ekspor tersebut menjadi sebesar 12,30 miliar dolar AS. Angka itu turun 25,45 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat sebesar 12,30 miliar dolar AS.
Negara tujuan ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari sampai September 2020 yakni China (27,47 persen), India (19,89 persen), Jepang (10,75 persen), Malaysia (7,98 persen), dan Filipina (7,64 persen). Mendag juga memaparkan sejumlah langkah strategis dilakukan Kementerian Perdagangan dalam mendorong ekspor batu bara.
Ia juga menekankan sejumlah keunggulan produk batu bara yang dihasilkan Indonesia. Kekuatan batu bara Indonesia adalah ramah lingkungan, rata-rata kalori yang dihasilkan serta kadar sulfurnya lebih rendah.
“Sehingga, batu bara asal Indonesia sangat berkualitas dan aman digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik,” kata Agus.
Kementerian Perdagangan juga memberikan apresiasi kepada APBI sebagai penyelengara konferensi virtual ini. Agus berharap pertemuan ini dapat merumuskan sejumlah strategi yang dapat mendorong perdagangan batu bara dunia sekaligus meningkatkan ekonomi Indonesia.
Sumber: https://republika.co.id/



Pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar dengan metode Refuse-derived Fuel (RDF) di Cilacap, Jawa Tengah baru saja diresmikan. Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan metode ini bisa memproduksi substitusi bahan bakar batu bara yang lebih murah untuk pembangkit listrik.

Cita-cita hilirisasi melalui pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) yang dicanangkan pemerintah nampaknya harus menghadapi sedikit hambatan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menargetkan akan ada sebanyak 52 smelter yang akan beroperasi hingga 2022 mendatang. Namun, nampaknya target tersebut harus meleset.

