Safety The Leader Way 01Selamat tahun baru 2020 terutama para sahabat sehabitat para praktisi safety.  Tahun 2019 baru saja berlalu.  Pergantian tahun adalah moment yang tepat untuk bersyukur, melakukan evaluasi, dan sekaligus memperbarui komitmen.  Saya yakin tiga ritual tahunan tersebut masih relevant untuk dipakai di bidang keselamatan kerja.

Dari sisi K3, tahun 2019 masih jauh dari bisa disebut sebagai tahun yang aman.  Keresahan Dr. Drew Rae bahwa masih banyaknya kecelakaan ditengah banyaknya kegiatan safety dan dokumen safety yang kita lakukan, semakin memperkokoh bahwa kebenaran pernyataannya sebagai pakar keselamatan.  Namun demikian, marilah kita syukuri bahwa kita masih dipertemukan dengan tahun baru ini untuk memperbarui komitmen kita membuat safety lebih baik di sepanjang 365 hari ke depan.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2020 ini, saya ajak para sahabat praktisi safety khususnya, untuk berkomitmen menjalankan setiap program safety, “the leader way”.  Yaitu menjalankan safety the leader way.  Yaitu bagaimana pemimpin menerapkan safety.

Elemen leadership itu banyak.  Apapun yang kalau kita lakukan akan menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik, itu leadership. Berpikir konseptual, mendemonstrasikan visual commitment, pelibatan dan pemberdayaan karyawan, apresiasi dan rekognisi, keteladanan, go beyond dan coaching, adalah beberapa contoh sikap kepemimpinan yang bisa kita terapkan sehari-hari, juga di keselamatan kerja.

Menerapkan sifat-sifat leader tidak usah menunggu anda menduduki jabatan managerial terlebih dahulu.  Dengan mempraktekkan pola pikir dan perilaku kepemimpinan tersebut di atas di dalam menjalankan program safety, kita sudah menjadi pemimpin.  Kita sudah menjalankan program safety the leader way.  Apapun jabatan kita sekarang. 

Pada kesempatan ini, mari kita praktekkan sikap-sikap leadership di atas untuk menerapkan program safety yang paling sederhana, yaitu “P2H”.  P2H adalah kependekan dari Pemeriksaan dan Pengecekan Harian, atau lebih populer disebut Pre Start Check.  Yaitu pemeriksaan terhadap kondisi alat sebelum kita mengoperasikannya. Program ini merupakan tugas rutin para pengemudi atau operator sebelum mereka mengendarai kendaraannya.

Jadi bagaimana menjalankan program P2H the leader way? 

Pertama, leader memahami program P2H secara konseptual.  Yaitu bagaimana program P2H bisa mencegah kecelakaan.  Agar bisa mencegah kecelakaan, leader akan memastikan pemeriksaan P2H terhadap kendaraan harus bisa mendeteksi kerusakan yang bisa berakibat fatal. Dalam berkendaraan kerusakan yang bisa berakibat fatal adalah kondisi ban, roda, rem, setir, serta perlengkapan safety lainnya seperti lampu, seatbelt, head rest, APAR, dst.  Maka leader akan membuat program P2H di perusahaannya dijalankan sampai bisa mendeteksi kondisi item-item kritis tersebut sebelum alat dijalankan.  Ini contoh penerapan elemen leadership pertama Konseptual.

Kedua, visual commitment.  Komitmen atau tekad kita untuk serius membuat P2H betul-betul bisa mendeteksi item-item kritis kendaraan tadi, harus terpancar dari seluruh bahasa tubuh kita, sampai bisa dirasakan oleh para pengemudi dan atasan pengemudi.  Artinya, seorang leader tidak bisa hanya sekedar pura-pura serius atau basa basi saja. Seorang leader harus total.

Ketiga, pelibatan dan pemberdayaan. Seorang leader tidak akan membuatkan checklist P2H untuk para pengemudinya. Leader akan melibatkan dan memberdayakan para pengemudi untuk membuat checklist P2H mereka. Leader akan melibatkan para pengemudi turut berpikir membuat checklist yang bisa mendeteksi kondisi item-item kritis (ban, roda, setir, rem dan perlengkapan safety) kendaraan secara akurat.  Leader mendorong agar isi checklist P2H itu datang dari kepala para pengemudi, bukan dari dirinya.

Keempat, apresiasi dan rekognisi. Ketika para pengemudi telah menemukan item-item checklist yang diinginkan, leader akan segera memberi apresiasi atau penghargaan serta pengakuan atas kontribusi pemikirannya. Hal ini akan membuat para pengemudi merasa menjadi pemilik program P2H di perusahaannya. W. Edwards Deming mengatakan: “Orang akan mendukung apa yang ia ikut menciptakan”.

TSAP Batch 5_2Pada suatu pelatihan safety leadership untuk level manajemen, setelah saya uraikan eIemen-eIemen dan leadership, saya bawakan sebuah cerita pribadi saya sebagai seorang manager K3. Ceritanya begini:

Saya berkendaraan menuju masjid untuk sholat Jumat. Karena asyik ngobrol, di sebuah pertigaan yang harusnya memutari drum, saya memotong jalan untuk belok ke kanan. Waktu tersadar saya telah berbuat kesalahan, saya telah terlambat dan tidak bisa mundur lagi. Gerakan spontan saya adalah melihat kaca spion, berharap tidak ada mobil di belakang.

Yang terjadi sebaliknya, di kaca spion terlihat jelas ada 3 kendaraan yang sama-sama dalam perjalanan menuju masjid. Dengan jelas pula terlihat ketiga kendaraan itu turut memotong pertigaan tersebut, persis seperti yang baru saja saya lakukan. Seperti umumnya di sebuah kota tambang, nomor mobil pejabat perusahaan dihafal oleh semua karyawan, termasuk nomor lambung mobil safety manager.

Otak saya berpikir cepat apa yang harus saya lakukan. Maka sebelum sampai masjid, di sepenggal jalan yang agak luas, saya meminggirkan kendaraan dan berhenti. Saya segera keluar dan mobil dan menghentikan 3 mobil di belakang satu persatu. “Pak maaf ya, tadi saya salah. Harusnya saya memutar drum” Jawaban mereka enteng saja, “Oh, kirain sekarang boleh pak Dwi.  Satu persatu, saya minta maaf, dan respon mereka kurang lebih sama.

Dan cerita tersebut, saya ajak kembali peserta pelatihan leadership, untuk menganalisa kisah itu dan kacamata leadership yang sedang kita bahas. Luar biasa respon dan peserta, di antaranya adalah sebagai berikut:

Contoh lebih mudah diikuti daripada ucapan pak, kata salah satu dan mereka.”Betul”, Jawab saya. Langsung saya beri ’toss’ dan hadiahi pin. Apalagi?
Di luar perkiraan saya, ternyata dari dongeng itu, muncul jawaban peserta pelatihan yang vaniasinya sangat luar biasa. Di antaranya adalah: Tindakan kita diawasi terus oleh karyawan, sehingga kita tidak boleh berbuat Salah sedikitpun. Seorang pemimpin harus berani mengaku salah. Pemimpin harus berani minta maaf. Pemimpin harus memberi contoh baik di jam kerja maupun di luar jam kerja.  Perilaku pemimpin di luar jam kerja pun tetap harus menjadi teladan. Kalau pak Dwi tidak berhenti meminta maaf, trust karyawan kepada pak Dwi akan Iangsung drop. Kalau pak Dwi tidak sempatkan stop untuk meminta maaf, pak

Dwi tidak akan bisa menegakkan aturan safety lainnya lagi. Pasti akan berbalik ke pak Dwi “Ah pak Dwi juga melanggar kemarin”. Dan, kalau satu rambu safety boleh dilanggar seorang pejabat, berarti rambu lainnya boleh langgar juga bahkan ada peserta yang membuat komentar hebat: Komitmen pak Dwi akan diragukan oleh karyawan, kredibilitas pak Dwi akan tergerus, integritas pak Dwi akan disangsikan.

Sungguh jauh diluar dugaan saya, cerita saya tersebut telah membuat para peserta bisa membayangkan aplikasi elemen demi elemen leadership yang sedang kita bahas, ke dalam perilaku sehari-hari sebagai pemimpi.  Tanpa mendongeng sebuah kasus yang telah saya alami sendiri tersebut, saya akan kesulitan mencari contoh-contoh nyata penerapan elemen leadership yang mudah diterima oleh mereka.

Dongeng juga merupakan metode mengajar yang menyenangkan, apalagi kalau kita pintar membawakan Dongeng kita sendiri akan memberikan legitimasi yang kuat bahwa kita sudah pernah menjalankan sendiri topik pelatihan yang sedang kita bawakan.  Sehingga kita bukan hanya bisa meng-influence peserta training, tetapi kita bisa meng-convince peserta training, karena kita sudah teruji pernah sukses menjalankannya sendiri.

Dari cerita di atas, terlihat jelas power dan sebuah cerita. Sebuah cerita atau kisah yang sesuai dan dibawakan dengan baik, mampu menggerakkan daya imajinasi mereka untuk menangkap bagaimana pentingnya materi training itu untuk diterapkan, dan apa risikonya apabila tidak.

Sejak saat itu, saya selalu menampilkan dongeng-dongeng atau kisah-kisah saya sebagai salah satu metode itu di setiap pelatihan-pelatihan. Peserta training saya sudah banyak sekali, dan tidak terduga ketika berjumpa di manapun, masih banyak yang ingat dongeng-dongeng safety saya, meski mungkin isi keseluruhan dan training itu sendiri sudah tidak mereka ingat detilnya.

Namun tentu saja, kisah yang mujarab adalah kisah din sendiri. Dan untuk mendapatkan kisah, tentunya kita harus implementasi di lapangan. Karena dengan implementasi, kita akan mendapatkan success story dan dongeng dongeng baru. Selamat mencoba story telling di setiap pelatihan. Selamat menerapkan program safety agar mendapatkan kisah-kisah baru yang bisa dijadikan bahan story telling.

  Artikel Story Telling AArtikel Story Telling

Terbit dimajalah KATIGA

Edisi No.71 I November – Desember I Hal 32 – 33

Mengenalkan Nilai Safety Sejak Dini

Kata-kata yang tidak asing di dunia industri adalah Safety Culture atau Budaya K3. Tulisan “Budaya K3” hampir ada disemua spanduk K3, apalagi pada bulan K3 Nasional.

Apa sih yang disebut Budaya K3?  Lalu, Apa sih budaya itu sendiri?  Banyak definisi budaya dari yang paling canggih sampai yang paling sederhana.  Mari kita ambil definisi budaya yang mudah kita sambungkan dengan safety.  “Budaya adalah kesepakatan suatu kelompok manusia untuk berpola pikir dan berperilaku tertentu yang dianggap tinggi, beretika, bermartabat, bahkan mulia, yang kalau tidak melakukan akan dianggap tidak berbudaya atau tidak bermartabat oleh kelompoknya”.

Dalam budaya Jawa, kalau berjalan di depan orang yang lebih tua harus dengan posisi membungkuk, kepala menunduk, dengan tangan telapak tangan kanan di depan dengan posisi terbuka miring, dan tangan kiri di belakang dengan posisi serupa.  Berjalan seperti itu bukan masalah benar salah, tetapi sudah disepakati oleh komunitas Jawa sebagai sikap dan perbuatan yang sopan, tahu tatakrama, bermartabat dan serta dianggap tinggi.  Akan dianggap tidak tahu sopan-santun dan tidak bermartabat oleh masyarakat Jawa kalau tidak bersikap dan berperilaku seperti itu, karena berjalan dengan cara seperti itu sudah disepakati sebagai salah satu nilai hidup orang Jawa.  Itulah budaya.

Untuk Budaya Safety, prinsipnya juga sama.  Bagaimana kita di dalam satu perusahaan bisa menyepakati bahwa berpola pikir dan berperilaku safety adalah perbuatan yang educated, bermoral, bermartabat, tinggi serta sangat mulia, dan kalau tidak menerapkan safety, akan kita pandang sebagai perbuatan yang uneducated, tidak berpendidikan, tercela bahkan memalukan. 

Proses tersebut tentu saja membutuhkan waktu yang panjang.  Budaya atau kesepakatan memakai nilai hidup yang sama di suatu organisasi tidak tumbuh dalam waktu sehari dua hari.  Budaya perlu waktu bertahun-tahun, puluhan tahun untuk terbentuk dan tumbuh menjadi suatu budaya yang kokoh.  Itupun kalau caranya benar dan leadership pimpinannya kuat.  Kalau caranya salah atau leadership  pimpinannya lemah, budaya yang kita inginkan tidak akan pernah terbentuk, bahkan sampai kiamat ketujuh pun.

Jadi berbudaya safety adalah kesepakatan bersama untuk berpola pikir dan berperilaku safety mengikuti nilai-nilai safety perusahaan.  Kata kunci budaya K3 disini adalah KESEPAKATAN BERSAMA  ………berPOLA PIKIR dan berPERILAKU SAFETY, dan mengikuti NILAI-NILAI  SAFETY dari perusahaan kita.

Maka syaratnya kita harus terlebih dahulu memiliki nilai-nilai safety.  Kalau belum punya nilai safety, lalu apa yang harus dijalankan.  

Ya mari kita buatkan.  Karena kalau gak punya ya gak bisa kita bangun budaya safety.   Sederhananya membuat nilai safety adalah sbb:

  1. Pelajari Value Perusahaan anda
  2. Pilih kata nilai safety yang paling cocok dari contoh ini (Integrity, respect, excellence, accountability, just, commitment, teamwork, trust, innovation, Diversity, Openness, Quality, Honesty, Passion, Collaboration, Commitment, dsb) yang paling sesuai dengan Value Perusahaan.
  3. Lalu kata-kata nilai safety yang sudah anda pilih, satu persatu berikan uraian penjelasan, masing-masing cukup satu kalimat.
  4. Lalu bawa draft nilai-nilai safety tersebut ke dalam meeting Komite KP Level Manajemen untuk direview.
  5. Kalau ada masukan perbaiki, sampai nilai safety tersebut diapprove komite.
  6. Kalau sudah diapprove, selamat, perusahaan anda sudah memiliki nilai-nilai safety.
  7. Buatkan program kerja untuk setiap nilai safety anda, dan bawa ke Management Safety Committee untuk mendapatkan approval.
  8. Review nilai-nilai safety di Meeting Tinjauan Tahunan untuk dipastikan bahwa sudah pas dan tidak perlu direvisi lagi.

Setelah perusahaan anda resmi memiliki NILAI SAFETY, maka tugas anda tinggal menguasai betul nilai-nilai safety tersebut, lalu mengkampanyekannya besar-besaran semenarik mungkin, di semua lini, bahkan sejak proses awal perekrutan karyawan.  Masukkan nilai safety perusahaan ke dalam agenda perekrutan karyawan.  Pertama, sampaikan kepada calon karyawan waktu perkenalan, sebelum tahap wawancara.

Budaya Safety 3Mari kita introspeksi diri yang kita jalankan di perusahaan kita masing-masing selama ini? Sudahkah perusahaan anda memiliki nilai-nilai safety? Sudahkah nilai safety perusahaan Anda dijabarkan menjadi program yang bisa dipraktekkan oleh setiap karyawan menjadi perilaku yang bisa diukur? Sudahkah nilai safety menjadi buah bibir semua pimpinan perusahaan dari paling atas sampai pengawas lapangan?

Kalau belum mari kita tumbuhkan budaya K3 itu?

Untuk itu mari kita mulai sekarang.  Karena Golden Rules kata-katanya sudah jelas hanya dengan membaca, biarlah daftar golden rules tersebut tetap menempel di dinding, membeku dingin tidak usah dikampanyekan lagi. Semua karyawan sudah hafal bahkan mereka tercekam ketakutan kalau tidak melakukan.

Ingatlah bahwa budaya safety adalah kesepakatan untuk berpola pikir dan berperilaku safety sebagai nilai yang baik, tinggi, bermartabat, serta mulia, oleh nilai safety disampaikan serta nilai-nilai perusahan. Kedua, Pembahasan nilai safety diulangi lagi dengan lebih detail pada saat wawancara.

Masukan nilai safety perusahaan kedalam bahan induksi karyawan baru, Pertama nilai-nilai safety di sampaikan setelah nilai-nilai perusahaan. Kedua nilai safety disampaikan lagi dalam sambutan oleh pimpinan (top manajemen) dalam video induksi sebagai bagian dari komitmennya,

Masukkan nilai safety perusahaan kedalam materi induksi area atau lapangan. Setelah itu baru dilanjutkan dengan materi induksi lainnya sampai selesai.

Setelah bekerja rutin, Karyawan baru akan berjumpa ‘nilai safety’ lagi di semua program safety rutin perusahaan dan di semua publikasi perusahaan.

Maka cobalah hitung, dengan cara diatas, berapa kali setiap karyawan baru, mendapat pesan nilai safety perusahaan? Setidaknya mereka sudah mendengar nilai safety sebanyak 5 kali sebelum mereka mulai bekerja, yang disampaikan oleh (1) Bagian perekrutan dari HR sebanyak 2 (dua) kali. (2) Penugas induksi umum sebanyak 1 (satu) kali. (3) Dari pidato top manajemen di dalam video induksi area atau lapangan sebanyak 1 (satu) kali.

Karena itu mari kita kampanyekan besar-besaran dalam bahasa safety yang mulai dan sejuk

Mari kerasnya golden rules pelan-pelan kita tutupi dengan sejuknya golden values, yaitu nilai safety yang masuk ke dalam program kerja sehari-sehari, yang bisa dihayati di dalam hati oleh setiap karyawan, untuk diamalkan oleh mereka menjadi perilaku, yang dilakukan terus menerus menjadi kebiasaan, yang selanjutnya akan menjadi budaya, yaitu kumpulan pola pikir dan perilaku yang mulia dari kita semua di perusahaan kita.

Budaya Safety 2 Budaya Safety 1

Terbit dimajalah KATIGA

Edisi No.70 I Agustus – September I Hal 42 – 43

Di dalam program pencegahan kecelakaan di sebuah organisasi, pengawas atau supervisor garis depan memiliki multi peran yang sangat strategis yang tidak bisa digantikan oleh posisi lain.  Di antaranya yang paling kritis adalah peran on the job training (OJT) dan peran pelibatan dan pemberdayaan team kerja (engagement dan empowerment).

Kedua peran tersebut sangat melekat kepada pengawas dalam interaksinya dengan pekerja sepanjang shift setiap hari.  Dalam interaksinya, komunikasi bawaan yang dimainkan oleh pengawas adalah pola komunikasi orang tua yang dikenali dengan komunikasi satu arah, memberi instruksi, informasi, advis kepada anak buah.  Secara alami, pola komunikasi orang tua disambut oleh anakbuah dengan pola komunikas anak, yaitu sikap menunggu, minta saran, minta persetujuan, dan ketergantungan.

Effective Question Pengawas Membangun Thinking Team-03

Untuk mendapatkan rasa memiliki oleh pekerja terhadap setiap program pencegahan kecelakaan perusahaan, kelemahan pasangan pola komunikasi orang tua vs anak ini harus diatasi dengan pengenalan perilaku leadership kepada para pengawas, di antaranya adalah:

  • Pola komunikasi orang dewasa yang ditandai dengan kesetaraan komunikasi dan pemberian tanggung jawab dan akuntabilitas kepada anak buah.
  • Metode komunikasi memakai pertanyaan efektif yang mendorong pelibatan anak buah untuk ikut berpikir, turut mencari solusi, sehingga tumbuh perasaan ikut memiliki.
  • Keterampilan memberi apresiasi terhadap apapun yang telah dilakukan benar oleh anak buah.

Sejalan dengan kata W. Edwards Deming: “Orang akan mendukung apa yang ia ikut menciptakan”, bahkan dengan effective question, pekerja akan mati-matian membuat sebuah program berjalan dengan baik karena ia ikut melahirkannya melaluii ide atau masukan mereka sendiri, hasil dari effective questioning.

Untuk mengubah mindset pengawas dari pola instruksi menjadi pola melempar pertanyaan adalah tidaklah mudah, karena telah tertanam kuat dari generasi ke generasi bahwa:

  • Tugas pengawas itu seperti orang tua, yaitu memberi nasehat dan menjawab pertanyaan dari anak buah, bukan malah bertanya kepada.
  • Peran pengawas adalah mengidentifikasi masalah, menganalisa, menyimpulkan dan menyampaikan hasilnya kepada anak buah, yang sudah berjalan sehari-hari selama ini.
  • Pekerja sendiri karena terbiasa dicekokin nasehat dan petuah, tidak siap untuk menjawab pertanyaan.

Keterampilan berkomunikasi memakai pertanyaan efektif (efective questions) bisa menjawab 3 tantangan di atas sekaligus, serta bisa menciptakan sebuah team yang berpikir (thinking team). Di mana otak manusia memiliki pembawaan untuk terus mencari jawaban pada setiap pertanyaan yang dilempar ke kepalanya.  Pertanyaan efektif membuat otak anak buah terus “on” disamping akan mempengaruhi cara berpikir mereka.

Pertanyaan efektif akan menuntut pengawas:

  • Meninggalkan pemakaian pertanyaan tertutup (closed ended questions) yang hanya akan memperoleh jawaban iya, tidak atau info terbatas, hanya untuk tujuan tertentu, seperti: Jam berapa mulai mengerjakan pekerjaan ini kemarin? Siapa saja yang terlibat? Apakah semua team tahu tugasnya masing-masing? Siapa nama-nama mereka?
  • Memakai pertanyaan terbuka (open ended questions) yang biasanya memakai kata tanya mengapa, bagaimana, yang arahnya meminta penjelasan serta membuka sebuah percakapan. Contoh:
    • Bagaimana pendapat anda dengan program ini? Apa harapan anda dengan melibatkan orang baru dalam tim ini?  Apa yang akan anda lakukan berbeda untuk membuat program ini lebih berhasil? 

Pertanyaan-pertanyaan tidak efektif yang tidak pada tempatnya di bawah ini harus sudah MULAI DIGANTI:

  • Gimana, aman semua? APD lengkap? JSA sudah ada? Semua sudah tahu JSA? Perkakas aman semua? P2H sudah? Alat-alat lengkap?

Diganti dengan pertanyaan2 efektif berikut ini:

  • Ketika Inspeksi ditemukan semua dalam kondisi baik:
    • Bagian mana dari prosedur yang kalian sudah lakukan membuat area kerja ini aman?
    • Bagaimana kalian berbagi tugas membuat area kerja ini konsisten aman dari awal sampai akhir shift sepanjang hari?
    • Setuju sekali. Kalian bisa melakukan seperti itu ke depan?  (ambil komitmen)

Note: setiap jawaban yang benar terhadap setiap pertanyaan di atas, berikan apresiasi dengan toss dan semacamnya

  • Ketika inspeksi ditemukan kondisi tidak aman:
    • (Setelah pekerjaan dihentikan) Menurut kalian apakah kondisi area kerja ini sudah aman dari kemungkinan menimbulkan cedera? (melibatkan team turut mengidentifikasi bahaya)
    • (Kalau tidak terjawab, beri pertanyaan berikutnya yang lebih menjurus) Apakah ada kondisi yang bisa jatuh menimpa anda? (melibatkan team turut berpikir)
    • (Setelah terjawab benar) Apa yang seharusnya anda lakukan untuk membuatnya tidak memiliki potensi jatuh? (melibatkan team turut berpikir)
    • (Kalau jawaban sudah benar) Setuju sekali. Anda bisa melakukan begitu ke depan? (ini minta komitmen)

Note: setiap jawaban yang benar terhadap setiap pertanyaan di atas, berikan apresiasi dengan toss dan semacamnya

  • Observasi atau pengamatan terhadap team yang sedang bekerja ditemukan tindakan tidak aman.
    • (Setelah pekerjaan dihentikan) Menurut anda apakah masih ada cara kerja yang bisa menyebabkan cedera di pekerjaan ini? (melibatkan untuk mengidentifikasi)
    • (Kalau tidak terjawab, beri pertanyaan berikutnya yang lebih menjurus) Bagian mana dari pekerjaan ini yang memiliki potensi mencederai jari anda? (melibatkan berpikir)
    • (Setelah terjawab benar) Bagaimana menurut anda cara mengerjakan yang bisa menjamin jari tangan aman dari potensi terjepit? (ajak terlibat memikirkan)
    • (Kalau jawabannya benar) Setuju sekali. Anda bisa melakukan begitu ke depan? (minta komitmen)

Note: setiap jawaban yang benar terhadap setiap pertanyaan di atas, berikan apresiasi dengan toss dan semacamnya

  • Safety Meeting
    • Bagian mana saja dari topik meeting tadi yang paling berguna di pekerjaan anda?
    • Dari bahaya terhadap mata yang dibahas tadi, pekerjaan anda yang mana saja yang terdapat potensi itu?
    • Apa yang akan anda lakukan untuk memastikan anda aman dari bahaya terhadap mata di pekerjaan itu?
    • Apa ada yang akan anda usulkan dari topik-topik meeting tadi yang perlu diperbaiki di tempat kerja anda?

Note: setiap jawaban yang benar terhadap setiap pertanyaan di atas, berikan apresiasi dengan toss dan semacamnya

Melalui pertanyaan-pertanyaan efektif, terciptalah sebuah thinking team, dimana:

  • Pekerja merasa telah diperlakukan setara dengan pola komunikasi orang dewasa
  • Pekerja telah terlibat untuk turut berpikir, memberi masukan, mencari solusi dan cara yang lebih baik yang sudah didengar pendapatnya dan langsung disetujui oleh atasan
  • Pekerja yang bangga memperoleh banyak apresiasi dari pengawas terhadap jawaban dan ide-ide yang benar.

Selamat berkreasi dengan pertanyaan-pertanaan efektif.

Effective Question Pengawas Membangun Thinking Team_hal 1

Effective Question Pengawas Membangun Thinking Team_hal 2

Terbit dimajalah KATIGA

Edisi No.69 I Mei – juni 2019 I Hal 42 – 43

Apa saja bahaya mengangkat beban berat dan atau dengan cara yang salah?

  1. Cederang tulang belakang
    1. Keseleo atau terkilir (strains atau sprains)
    2. Sifat cederanya permanen, cacat seumur hidup
  2. Hernia
    1. Sobek dinding perut
    2. Penyembuhan jangka panjang

Catatan: Keperkasaan laki-laki terkena DAMPAK paling besar bila telah mengalami salah satu dari 2 cedera ini.

Pekerja profesional akan mengangkat manual dengan:

  1. Mempelajari apakah mungkin diangkat sendirian dengan mempertimbangkan:
    1. Ukuran, berat, bentuk,
    2. Rute yang akan dilewati
    3. Ada atau tidaknya tempat pegangan
  2. Mengangkat dengan benar, pegangan kuat, punggung tetap tegak, barang rapat ke tubuh, pandangan ke depan, angkat dengan berdiri memakai tenaga paha.
    KESELAMATAN TULANG BELAKANG (1)                                    KESELAMATAN TULANG BELAKANG (2)
  3. Menurunkan beban dengan posisi sama pada waktu mengangkat, punggung tetap lurus
  4. Tidak memutar tubuh ketika sedang membawa beban, putarlah tubuh secara keseluruhan sekaligus
    KESELAMATAN TULANG BELAKANG (3)
  5. Jangan melakukan pengangkatan berlebih, kurangi berat beban dengan:
    1. Dibagi dua lalu diangkat dua kali, atau
    2. Minta bantuan teman
    3. Memakai alat angkat
  6. Sebelum memulai suatu pengangkatan manual periksa terlebih dahulu jalan yang akan anda lewati, untuk memastikan:
    1. Bersih dari barang yang bisa membuat kaki anda terantuk, terjerat, atau terpeleset.
    2. Cukup lebar untuk anda lewati bersama beban yang anda angkat.
    3. Jangan mencoba menangkap beban yang terjatuh
  7. Jangan mencoba menangkap beban yang terjatuh

Bagaimana cara mengangkat oleh lebih dari 1 orang?

  1. Rencanakan bagian mana masing-masing akan memegang
  2. Setiap gerakan mengangkat atau berjalan harus dengan aba-aba
  3. Tetapkan satu orang memberi aba-aba untuk memulai suatu gerakan
  4. Kurangi kecepatan dan saling berkomunikasilah ketika melewati tempat yang sempit, jalan menurun, atau menanjak.
  5. Turunkan beban dengan mengikuti aba-aba

KESELAMATAN TULANG BELAKANG (1)

Diskusikan dengan peserta meeting:

  1. Barang apa saja yang berat atau bentuknya ganjil sering diangkat di tempat kerja anda
  2. Apakah ada diantara peserta yang merasakan pinggang sakit ketika sampai di rumah sepulang kerja?
  3. Kalau ada, kira-kira pekerjaan apa yang menyebabkan pinggang anda nyeri?
  4. Tolong satu peserta meeting maju mempraktekkan cara mengangkat yang benar?
  5. Apakah ada alat angkat yang bisa dipakai untuk mengurangi pengangkatan manual?
  6. Apakah yang akan anda lakukan ketika barang yang sedang anda bawa itu mulai bergerak jatuh?
MOTIVASI
MALU lah menjadi karyawan KAMPUNGAN, yaitu karyawan yang:
  • MENGERJAKAN suatu tugas yang ia BELUM DITRAINING, atau yang bukan tugasnya
  • MENGENDARAI kendaraan atau MENGOPERASIKAN peralatan padahal TIDAK memiliki SIMPER untuk unit itu
  • TIDAK MENGETAHUI bahaya suatu pekerjaan yang AKAN ia KERJAKAN
  • TIDAK BERTANYA ketika ia TIDAK TAHU cara melakukan pekerjaannya dengan benar.
  • TIDAK MEMAKAI APD yang distandarkan untuk pekerjaan itu
  • TIDAK MENGIKUTI prosedur atau JSA untuk pekerjaan itu
  • COBA-COBA CARA lain sendiri, ketika prosedur atau JSA tidak bisa diikuti
  • TIDAK TERLIBAT DISKUSI selama pelaksanaan SAFETY MEETING
Pelaksanaan SAP Pengawas Pelatihan dan Sertifikasi
      •   Safety Meeting
      •   Safety Inspection
      •   Safety Observation
      •   Pembuatan dan pemakaian JSA
      •   P2H 4M1L Pengawas
      •   Investigasi
      • Prosentase pencapaian pelatihan sistem kendali risiko kritis
      • Prosentase pencapaian pembekalan POP
      • Prosentase pencapaian pelatihan SAP Pengawas
      • Prosentase pencapaian pelatihan tanggap darurat
Kegiatan: Perrbaikan berkelanjutan
      • Management Safety Steering Committee
      • Meeting
      • Pertemuan taskforce HIRADC
      • Pertemuan taskforce SMKP
      • Pertemuan taskforce safety yang lain
      • Emergency Response Drill
      • Audit internal
      • Pelaporan dan investigasi nearmiss
      • Penulisan atau update JSA atau SOP
      • Publikasi

[slideshow_deploy id=’4727′]

Pembekalan dan Uji Kompetensi K3 dan Lingkungan bagi
Pengawas Operasional Pertama (POP) Pertambangan – In House

Pengawas operasional dan pengawas teknis pertambangan dituntut untuk memenuhi persyaratan kompetensi K3L Tambang minimum, yang diatur di dalam SK Dirjen 228K/2003, yang selanjutnya disebut kompetensi Pengawas Operasional Pertama (POP), Pengawas Operasional Madya (POM) dan Pengawas Operasional Utama (POU).  Yaitu suatu sertifikasi kompetensi K3L dari Kementerian ESDM yang menjadi prasyarat seseorang untuk bekerja sebagai pengawas di bidang pertambangan umum di Indonesia.

PT Indo SHE sebagai perusahaan jasa pertambangan berijin, memfasilitasi Pelatihan Pembekalan Pra POP dan menfasilitasi Uji Kompetensi K3L bagi Pengawas Pertambangan olehLembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang diselenggarakan langsung setelah selesai pelatihan.

Jadwal

Materi Pelatihan (8 Topik)

Hari ke-

Waktu

1

08:00-12:00

Peraturan dan Perundangan K3

 

13:00-17:00

Identifikasi, Penilaian dan Pengendalian Bahaya

2

08:00-12:00

Akuntabilitas K3

 

13:00-17:00

Safety Meeting Terencana

3

08:00-12:00

Job Safety Analysis (JSA)

 

13:00-17:00

Inspeksi Terencana

4

08:00-12:00

Investigasi Insiden

 

13:00-17:00

Lindung Lingkungan Pertambangan

5

08:00-12:00

Rangkuman Materi

 

13:00-17:00

Ujian Kompetensi POP (Tes Tulis)

6

08:00-selesai

Ujian Kompetensi POP (Tes Wawancara)

Pengakuan Klien

Rasa syukur Alhamdulillah perusahaan masih memberikan kami pelatihan K3L dari INDOSHE meskipun kondisi pertambangan masih lesu.
Ilmu yang kami dapatkan sangat luar biasa, dari gelas yang awalnya kosong kini terisi penuh hingga meluap.
Materi yang disampaikan oleh Bapak Dwi Pudjiarso sangat berkualitas dengan metode penyampaian yang sederhana dan mudah di pahami.
Semoga INDOSHE dapat selalu memberikan ilmu yang positif bagi para pekerja tambang profesional lainnya.
IMG-20150917-WA0003-1.jpg

Ivan Maulana

Master Loading